Assalammu’alaikum
warahmatullah.
Kembali saye menguraikan madah.
Dengan
awal membace bismillah.
Syair
gulungpun terbukalah sudah.
Dengan
bismillah permulaan kate.
Kate
tersusun baitpun beserte.
Saye
syairkan ape yang ade.
Mohon
dibace dengan seksame.
Senandung
salam kepade Rasulullah.
Berharap
syafaat dan barakah.
Semoge
rahmat selalu tercurah.
Rindu
beserte untuk berwajhah.
Wahai
Rasul yang dimuliakan.
Junjungan
kehariba’an.
Shalawat
dan salam kami kemukekan.
Besar
rindu ku tolong diijabahkan.
Salam
ya salam.
Bahagie
dan haru syukur kepade Khalikul Alam.
Semoge
hati menjadi tentram.
Beribadahlah
kite siang dan malam.
Lihatlah
bagimane ini alam.
Terase
panas menampak curam.
Kembali
musibah besar yang menghantam.
Kedaanpun
takut mencekam.
Segale
menjadi kuase Allah.
Gunung-gunungpun
begeser dan goyah.
Penginggat
manusie agar taat beribadah.
Nasehat
yang baik tak dapat dibantah.
Kemarau
panjang yang panas.
Sebagian
kecil dari yang na’as.
Apekah
kite belum cukup puas.
Kepade
Allahlah kite memintak melas.
Ape
kabar gunung kelut.
Gunungnye
batuk senegeri berkalut.
Itulah
pengingat agar selalu bersujut.
Kemene
pergi selalu ketemu maut.
Gunung
pasaknye bumi.
Sangat
mudah jike dicabut Ilahi.
Apekah
manusie tidak mengerti.
Dunie
ini sudah renta sekali.
Jike
gunung meletus.
Banyaklah
hal yang mesti diurus.
Sungguh
musibah yang dianggap serius.
Banyaklah
relawan yang diutus.
Lihatlah
gunung Sinabung.
Jutaan
umat dibuatnya berkabung.
Tentu
Sinabung bukan sembarang gunung.
Di
tanah Karo die kokoh membumbung.
Gunung
Kelud di Jawa Timur.
Seketike
hunian menjadi hancur.
Hati-hati
jike laharnye meluncur.
Dari
pulau Jawa ribuan umat akan tergusur.
Lain
cerite jike Sinabung batuk.
Itu
bukanlah murka yang terkutuk.
Senegeri
hati umat jadi terketuk.
Hanye
kepade Allah kite menunduk.
Gunung
Kelud hanye demam.
Dengan
letusanye die bergumam.
Banyaklah
diri rase tak tentram.
Menahan
takut di dalam diam.
Ratusan
gunung berjajar rapi.
Di
pulau Jawa berderet gunung berapi.
Di
Kalimantan kabut asap yang menjadi.
Demikian
dekat kiamat dunie ini.
Tiade
mampu menjinakan gunung.
Semuenye
takut die meraung.
Tiade
pemimpin mampu menanggung.
Kepade
Allah lah kite menyanjung.
Tenang-tenang
gunung Krakatau.
Tenangnye
die selalu dipantau.
Kelakuan
kite mesti sering ditinjau.
Jangan
terkejut datang bala’ seperti mengigau.
Dari
bumi keluar air.
Dari
langit air mengalir.
Tiade
tertampung Jakartapun banjir.
Itu
kerje tahunan yang tak henti dipikir.
Selagi
hidup menyombong diri.
Tiade
berubah bala’ di negeri ini.
Pejabat
dan rakyat bersekutu korupsi.
Penegak
hukum sudah ikut mencuri.
Gunung-gunung
marah.
Hutan-hutan
memerah.
Air-air
bercampur nanah.
Terase
ke manusie baru dianggap musibah.
Belajarlah
dari Kelud.
Kepade
Allah tiade die berkalud.
Di
balik kokohnye die selalu sujud.
Dengan
syahadat kite mesti berpaud.
Liatlag
gunung Sinabung.
Lama
sudah die menabunng.
Sampai-sampai
masuk ke dalam Syair gulung.
Tak
tahan die membusung.
Ape
kerje siage bencane.
Hanye
bise berencane.
Habis
anggaran negare entah kemane.
Presiden
datang hanye nunjukan muke.
Ade
bencane ditanggulangi.
Bukan
sibuk rapat sana sini.
Wajar
rakyat keburu mati.
Nunggu
presiden ngantri tiket kereta api.
Duhai
malang negeri ku.
Hidup
rakyat seujung kuku.
Hanye
kepade Allah kite menyadu.
Sujud
menangis tersedu-sedu.
Kemane
pare legislator.
Sibuk
kerje hadiri sidang tipikor.
Jadi
dewan supaye tersohor.
Tetapi
rakyat pula yang menanggung tekor.
Jangankan
gunung yang meletus.
Semue
makhluk marah jike tak diurus.
Sumpah
dan doenye tak akan putus-putus.
Bagi
pemimpin yang tak bercus.
Jadi
presiden kunjung sana kunjung sini.
Jadi
calon presidien sibuk iklan di tivi.
Jadi
dewan tidur berapat dikursi.
Jadi
calon legeslatif sibuk mengobral janji.
Liat
baleho di jalan-jalan.
Habiskan
duit tiade tersimpan.
Bemacam
gaye diperankan.
Pengen
meliat bejalan pelan-pelan.
Gunung
kelud dan sinabung.
Karenenye
kite jadi berkabung.
Kerusakanye
tiade terhitung.
Semoge
kite tergong orang beruntung.
Si
kelud telah tenang.
Si
nabung diam berguncang.
Sekarang
pengunsi perlu uang.
Di
jalan-jalan malah baleho yang terbentang.
Ayo
menangguk duit.
Jangan
kite jadi pelit.
Mentang-mentang
mau irit.
Sedekahpun
pakai kredit.
Kepade
semue korban.
Ingatlah
kan kuase Tuhan.
Sabar
dan tetaplah bertahan.
Kempuan
mu pasti akan menemukan jalan.
Semoge
dicabut segale dose.
Bertambah
umur dipanjangkan usie.
Terganti
kerusakan harte bende.
Dekatkan
diri kepade Tuhan semate-mate.
Demikiankal
ini madah.
Ampun
maaf kate yang salah.
Saye
hanye menguraikan madah.
Semoge
bertambah berkah.
Dengan
mengucap alhamdulillah.
Saye
tutuplah ini madah.
Demikian
ini petuah.
Akhir
kate wassalammu’alaikum warah matullah.
Ketapang : 19 Februari 2014
Oleh : Zunaidi Tuan-Tuan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.