SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Rabu, 19 Februari 2014

SYAIR GULUNG "GUNUNG SINABUNG SI GUNUNG KELUD"



Assalammu’alaikum warahmatullah.
Kembali  saye menguraikan madah.
Dengan awal membace bismillah.
Syair gulungpun terbukalah sudah.


Dengan bismillah permulaan kate.
Kate tersusun baitpun beserte.
Saye syairkan ape yang ade.
Mohon dibace dengan seksame.


Senandung salam kepade Rasulullah.
Berharap syafaat dan barakah.
Semoge rahmat selalu tercurah.
Rindu beserte untuk berwajhah.


Wahai Rasul yang dimuliakan.
Junjungan kehariba’an.
Shalawat dan salam kami kemukekan.
Besar rindu ku tolong diijabahkan.


Salam ya salam.
Bahagie dan haru syukur kepade Khalikul Alam.
Semoge hati menjadi tentram.
Beribadahlah kite siang dan malam.


Lihatlah bagimane ini alam.
Terase panas menampak curam.
Kembali musibah besar yang menghantam.
Kedaanpun takut mencekam.


Segale menjadi kuase Allah.
Gunung-gunungpun begeser dan goyah.
Penginggat manusie agar taat beribadah.
Nasehat yang baik tak dapat dibantah.


Kemarau panjang yang panas.
Sebagian kecil dari yang na’as.
Apekah kite belum cukup puas.
Kepade Allahlah kite memintak melas.


Ape kabar gunung kelut.
Gunungnye batuk senegeri berkalut.
Itulah pengingat agar selalu bersujut.
Kemene pergi selalu ketemu maut.


Gunung pasaknye bumi.
Sangat mudah jike dicabut Ilahi.
Apekah manusie tidak mengerti.
Dunie ini sudah renta sekali.


Jike gunung meletus.
Banyaklah hal yang mesti diurus.
Sungguh musibah yang dianggap serius.
Banyaklah relawan yang diutus.


Lihatlah gunung Sinabung.
Jutaan umat dibuatnya berkabung.
Tentu Sinabung bukan sembarang gunung.
Di tanah Karo die kokoh membumbung.


Gunung Kelud di Jawa Timur.
Seketike hunian menjadi hancur.
Hati-hati jike laharnye meluncur.
Dari pulau Jawa ribuan umat akan tergusur.


Lain cerite jike Sinabung batuk.
Itu bukanlah murka yang terkutuk.
Senegeri hati umat jadi terketuk.
Hanye kepade Allah kite menunduk.


Gunung Kelud hanye demam.
Dengan letusanye die bergumam.
Banyaklah diri rase tak tentram.
Menahan takut di dalam diam.


Ratusan gunung berjajar rapi.
Di pulau Jawa berderet gunung berapi.
Di Kalimantan kabut asap yang menjadi.
Demikian dekat kiamat dunie ini.


Tiade mampu menjinakan gunung.
Semuenye takut die meraung.
Tiade pemimpin mampu menanggung.
Kepade Allah lah kite menyanjung.


Tenang-tenang gunung Krakatau.
Tenangnye die selalu dipantau.
Kelakuan kite mesti sering ditinjau.
Jangan terkejut datang bala’ seperti mengigau.


Dari bumi keluar air.
Dari langit air mengalir.
Tiade tertampung Jakartapun banjir.
Itu kerje tahunan yang tak henti dipikir.


Selagi hidup menyombong diri.
Tiade berubah bala’ di negeri ini.
Pejabat dan rakyat bersekutu korupsi.
Penegak hukum sudah ikut mencuri.


Gunung-gunung marah.
Hutan-hutan memerah.
Air-air bercampur nanah.
Terase ke manusie baru dianggap musibah.


Belajarlah dari Kelud.
Kepade Allah tiade die berkalud.
Di balik kokohnye die selalu sujud.
Dengan syahadat kite mesti berpaud.

 
Liatlag gunung Sinabung.
Lama sudah die menabunng.
Sampai-sampai masuk ke dalam Syair gulung.
Tak tahan die membusung.


Ape kerje siage bencane.
Hanye bise berencane.
Habis anggaran negare entah kemane.
Presiden datang hanye nunjukan muke.


Ade bencane ditanggulangi.
Bukan sibuk rapat sana sini.
Wajar rakyat keburu mati.
Nunggu presiden ngantri tiket kereta api.


Duhai malang negeri ku.
Hidup rakyat seujung kuku.
Hanye kepade Allah kite menyadu.
Sujud menangis tersedu-sedu.


Kemane pare legislator.
Sibuk kerje hadiri sidang tipikor.
Jadi dewan supaye tersohor.
Tetapi rakyat pula yang menanggung tekor.


Jangankan gunung yang meletus.
Semue makhluk marah jike tak diurus.
Sumpah dan doenye tak akan putus-putus.
Bagi pemimpin yang tak bercus.


Jadi presiden kunjung sana kunjung sini.
Jadi calon presidien sibuk iklan di tivi.
Jadi dewan tidur berapat dikursi.
Jadi calon legeslatif sibuk mengobral janji.


Liat baleho di jalan-jalan.
Habiskan duit tiade tersimpan.
Bemacam gaye diperankan.
Pengen meliat bejalan pelan-pelan.


Gunung kelud dan sinabung.
Karenenye kite jadi berkabung.
Kerusakanye tiade terhitung.
Semoge kite tergong orang beruntung.

Si kelud telah tenang.
Si nabung diam berguncang.
Sekarang pengunsi perlu uang.
Di jalan-jalan malah baleho yang terbentang.

Ayo menangguk duit.
Jangan kite jadi pelit.
Mentang-mentang mau irit.
Sedekahpun pakai kredit.


Kepade semue korban.
Ingatlah kan kuase Tuhan.
Sabar dan tetaplah bertahan.
Kempuan mu pasti akan menemukan jalan.

Semoge dicabut segale dose.
Bertambah umur dipanjangkan usie.
Terganti kerusakan harte bende.
Dekatkan diri kepade Tuhan semate-mate.


Demikiankal ini madah.
Ampun maaf kate yang salah.
Saye hanye menguraikan madah.
Semoge bertambah berkah.

Dengan mengucap alhamdulillah.
Saye tutuplah ini madah.
Demikian ini petuah.
Akhir kate wassalammu’alaikum warah matullah.


Ketapang         : 19 Februari 2014
Oleh                 : Zunaidi Tuan-Tuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.