Pantun Hantaran Pernikahan
Zunaidi, S.Pd.I & Vera Kartika, S.Pd
Pihak Lelaki
Buah asam di dalam baskum,
Buah asam dijuluk jatuh.
Assalammu’alaikum,
Warahmatullahi wabarakatuh.
Hidup serumpun rumput ilalang,
Burung pempuruk hinggap di dahan.
Kami datang bukan sembarang datang,
Kami datang karene suatu hajatan.
Tinggi –tinggi si matahari,
Panas-panas api di tungku.
Maaf jike kami datang sudah
tinggi ari,
Terimakaseh kedatangan kami maseh ditunggu.
Menjalar-jalar sireh kerakap,
Di atas batu tumbohlah lumut.
Kami datangpun membawa hantaran lengkap,
Sekirenye kurang jangan nam disebut-sebut.
Lepas ditangan pempuruk tanjung,
Jinak-jinak burung merpati.
Sudah bermule pangkal dan ujung,
Hari ini acare hijab kabul mestilah jadi.
Rumput tumbuh di rimbun semak,
Batang tebu beruas-ruas.
Haraplah syarat adat kami diterimak,
Pulangnye kami hatipun puas.
Bile hendak menanam padi,
Pastikan tumbuh rumput serumpun.
Kami hantarkan zunaidi sebagai mempelai lelaki,
Tegahkan nakalnye baiknye mohon dituntun.
Kembang setaman harum mewangi,
Bunge teratai di tengah telage.
Berakhirlah mase lajang Zunaidi dihari ini,
Berkahlah die hidup berkeluarge.
Mengayuh sampan boleh ke tepi,
Kayuh ke tengah aiknye deras.
Kepade si vera kartika zunaidi menambat hati,
Semoge kuat sampai mati tiade terlepas.
Ilik syair mudikpun syair,
Suare gendang betalu-talu.
Kini semue keluarge telah hadir,
Urusan nikah tak lagi lama ditunggu.
Kalah ilmu tinggi petue,
Dilanggar pantang dilangkah tulah,
Mungkin ini sudah jalan dan jodohnye,
Semoge hidup membawa faedah.
Sari wangi akar berumpun,
Mayang kelapa berkembang bunge.
Terkadang zunaidi duduk melamun,
Mengingat kasihnye si vera tercinte.
Padi berisi pasti merunduk,
Ayam jogok bejalan gagah.
Sampai wayahnye zunai & vera bersanding duduk,
Tiade halangan untuk menikah.
Buah nangka masak di dahan,
Dibiarkan masak menjadi lodoh.
Mungkin ini sudah menjadi jalan,
Si Zunaidi dan Vera Kartika
ini nampaknye berjodoh.
Benang disulam menjadi kain,
Kain dijahit menjadi baju.
Banyaklah pula wanita yang lain,
Tetapi kepade si Vera pula
Zunaidi menuju.
Bile hendak beladang padi,
turut pula tumbuhnye rumput.
Bile ade kekurangan kami ,
Jangan’am perai dihati dan mulut.
Layang-layang selayang pandang,
Burung kelayang hinggap di dahan.
Demikianlah hajatan kami ini datang,
Semue maksud telah teruraikan.
Sayang-sayang pokok selaseh,
Batangnye tinggi jangan
dipantuh.
Uraian pantun kami akhiri dengan ucapan terimakasih.
Akher kate wassalammu’alaikom wr,wabarakatuh.
Pantun Hantaran Pernikahan
Zunaidi, S.Pd.I & Vera Kartika, S.Pd
Pihak
Perempuan
Di dalam baskom ade asam,
asam dari Tuan-Tuan nan jauh.
Kami jawab salam pihak lelaki waalaikum salam,
wr wabarakatuh.
Burung murai hinggap di kebon,
Terjerat sangkar jeruji lidi.
Sempat pula kite berurai pantun,
Nampaknye acare kite ni makin tinggi ari.
Adat petue mengalahkan ilmu,
Ilmu Ketapang sangatlah keras.
Ampun maaf kite kepade seluruh tamu,
calon penganten hari ini harus kite buat puas.
Pokok keranji’ di tengah laman,
Tak disangke berbatang tinggi.
Akhirnye rombongan pihak lelaki berdatangan,
Kami tunggu dari suboh kami sambot berterang hari.
Lewat jembatan pawan aiknye pasang,
Bermuare deras di kuale melate.
Kepade rombongan laki-laki kami ucapkan selamat datang,
Kami sambot dengan suke cite.
Anak kucing suke berkerah,
Berebut jepit cangkang keramak.
Jike pihak lelaki ade barang yang maok diserah,
Dunie akherat ikhlas kami terimak.
Kemane hutan hedak ditebas,
Kemane aik hendak berhulu.
Insyaallah hari ini hajatan kite akan tuntas,
Masalah nikah kami telah siapkan bapak penghulu.
Sapu tangan berpenjuru empat,
Satu penjuru dimakan api.
Si zunaidi dan Vera kartika ini memang pasangan keramat.
Keluarge dua belah pihakpon merestui.
Jikalau kaki tersandung batu,
Pastikan jatuh tulangnye
patah.
Jikalau saling ade maok memang begitu,
Sumpah tunainye jangan’nam berubah.
Jikalau merpati sudah terpikat,
jangan terlepas ikatan benang.
Jikalau hati vera dan zunaidi sudah terpikat,
dekat dan jauh mereke selalu terkenang.
Asal mule nikah beranak cicit,
susah senang saling berbagi.
Sedangkan lidah lagi tergigit.
apetah lagi jike suami
istri.
Padi setangkai jadikan benih,
Ditanam hidup berbuah padi.
Buang yang keruh ambil yang jernih.
Itu barulah teguh pribadi.
Tempat sireh di depan kami,
bungkusnye indah benampan-nampan.
Hari ini akat nikah insyaallah jadi,
Setelah serah terimak barang berjabat tangan.
Buah labuk sebesak lengan,
Tumboh menjalar tepi perigi.
Jike sudah berjabat tangan,
Janganlah janji tuan berubah
lagi.
Satu duak tige pelite tanah,
Jangan diberik bersumbu kain.
Berdoe kite kepade Allah,
Vera dan zunaidi jangan diberik jodoh yang lain.
Senang gembire menari-nari,
Rase haru di dalam dade.
Mohon maaf kami pinta sepuluh jari,
Jahatnye kami jangan di kate jangan dicele.
Panjang-panjang seutas benang,
Pengantin datang diarak-arak,
Ke rumah kami dilain waktu silekann datang,
Jangan’nam malu jangan’nam bejerak.
Susah-susah membuat kelepon,
Pecah gulenye jike tejatuh.
Demikianlah jawaban kami berpanton.
Akher kate wassalammu’alaikom wr wabarakatuh.
Ketapang, 23 Juni 2013
Oleh: Zunaidi Tuan-Tuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.