by Zunaidi Aidi Tuan-Tuan on Friday, 04 February 2011 at 01:16
Buah asam di dalam baskom,
asam masak dijuluk jatuh.
Assalamm'ualikom,
warahmatullahi wabarakatuh.
Di dalam biskom ade asam,
batangnye rindang tempat berteduh.
Wailaikum salam,
warahmatullah wabarakatuh.
Buah asam buahlah delime,
buah delime susah dikupas.
Daripade tak ade kerje,
cobelah dibace ini pantun bebalas.
Buah delime memang sulit dikupas,
masaknye mengkal berwarne merah.
Rupenye macam ini pantun bebalas,
sampiranye berkait isinyepun indah.
Masaknye mengkal bewarne merah,
tak lain tak bukan buahlah manggis.
Ini salah satu budaye menjage marwah,
senang kite ketawak sedeh jangan menangis.
Besapar pula sibuah manggis,
besapar satu jadi taruhan.
he eh orang ketawak die malah menangis,
Pastilah hatinye sedang tak karuan.
Jangan suke main taruhan,
habis duit bejual celane.
Bile maok menangis jangan ditahan,
itulah sudah kodrat manusie.
Celane koyak harap ditampal,
ditampal dengan kain perecak.
Jadi jin tak kelihatan jadi manusie malah menakal,
harte takpunye hidup maok melagak.
Kain perecak kainlah serbit,
kain serbit dibuat sapu tangan.
Itulah hidup manusie yang sempit,
tak kenal agame jadilah die setan.
Sapu tangan berpenjuru empat,
satu penjuru dimakan api.
Hidup jadi manusie mesti banyak taubat,
jangan malah banyak beranak bini.
Kalau sapu tangan dimakan api,
hanye tersisa satu penjuru.
Orang perempuanpun jangan sibuk mencari laki,
lebih baik sibuk menuntut ilmu.
Bile tersisa satu penjuru,
tidaklah elok dipandang mate.
Menuntut ilmu kite mesti berguru,
jangan menuntut ilmu hanye untuk dunie.
Elok tak elok dipandang mate,
mate perompak buta sebelah.
Bukan saye maksud mengate,
sekarang banyak orang pintar tapi tak berkah.
Mengape perompak buta sebelah,
karene mengintip putri duyung sedang mandi.
Ilmu yang didapat amalkanlah untuk ibadah,
jangan diamalkan untuk membodohi.
Putri duyung mandi berkemban,
kembanye lepas sisiknye tersingkap.
Alah orang pintar hanye menjual tampan,
sikit berilmu banyak becakap.
Makin tersingkap makin kelihatan,
itulah bedanya rok dengan roket.
Mandi berkemban jagan parit tepin jalan,
orang meliatpun jadi bejalan senget.
Kalau roket bise terbang,
kalau rok perempuan bise menutup.
Perempuan cantik jangan semabarang pandang,
jike dipandang nafsu meletup-letup.
Tutup atas bawah terbuka,
harap ditebak apelah itu.
Dasar lelakinye juga yang mate buaya,
selalu melirik perempuan yang lalu.
Jike saye boleh menebak,
itulah die pintu rumah betingkat.
Ngatekan orang sediripun lupak,
padahal diri sendiri banyak ilmu pemikat.
Rumah betingkat rumahlah melayu,
betongkat tinggi bertiang tegak.
Janganlah saye lalu ditiru,
merendah saye tak mau melagak.
Tongkat tegak tongkatlah lelaki,
maksud saye lelaki tue jalan bertongkat.
Depan kawan alah die merendah diri,
belakang kite pacar kawanpun diembat.
Datok-datok betongkat rotan,
nenek-nenek suke menyireh.
Lelaki selalu mengaku jantan,
depan perempuan die malah bekaseh-kaseh.
Nenek menyireh pasti meludah,
membuang ludah disela lantai.
Pantun ini cukuplah sudah,
saye sambung lagi diwaktu yang santai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.