oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 19 Oktober 2011 jam 21:05
Assalammu’alaikum warahmatullah.
Berurai kate senandung madah.
Dengan awal bermule bismillah.
Sayer gulung ketapang terbukalah sudah.
Dengan memuji Khalikul Alam.
Dengan bismillah sebagai permulaan kalam.
Jangan kite lama berdiam.
Ingatlah Tuhan siang dan malam.
Selame kite hidup ini.
Janganlah lupa untuk berbakti.
Hidupun jangan sesuka hati.
Ape yang dipantang harap dipatuhi.
Bile disekolah kite mengkaji.
Banyaklah mate pelajaran yang dipelajari.
Dari pelajaran sosial sampai biologi.
Ditambah lagi les di sana sini.
Sekarang mate pelajaran macam-macam.
Waktu belajar di kelaspun bertambah jam.
Tugas di rumahpun dikerjekan malam.
Ujung-ujungnye macamnyannam.
Dak semase sekolah.
Samem dengan waktu kuliah.
Sekolah kalang kabut dak apelah.
Asal lulus dapat izajah.
Guru-gurupun macam-macam tabiatnye.
Selagi honor rajinnye luar biase.
Jadi guru kontrak tahan belamak di dese.
Sekali jadi pegawai negeri malah semene-mene.
Ade pelajaran agame ade pelajaran fisika.
Itung beritung banyak dipelajaran matematika.
Adek beradeknye pelajaran kimia.
Pancak bicare dipelajaran bahasa.
Geografi juga dipelajari.
Dekat dengan antropologi.
Pelajaran sejarah sedikit yang meminati.
Ape tah lagi pelajaran akutansi dan ekonomi.
Lebih parah pelajaran bahase Inggris.
Bedelah dengan bahase Prancis.
Jaohlah nyambongnye dengan bahase Bugis.
Bahase sorangpun lalu hilang terkikis.
Sukelah kite diajar guru.
Terutame jike ngajarnye bermutu.
Murid kesusahan guru mau membantu.
Lebih-lebih jike diberinye buku.
Hati-hati jike menjadi guru.
Baik guru negeri atupun guru bantu.
Janganlah mengajar tak tentu rudu.
Guru dan orang tue murid jangan mau diadu.
Murid jangan dipelasah.
Ape tah lagi jike dipepah.
Nanti orang tue murid nyerang ke sekolah.
Guru-guru dan kepala sekolahpun kena marah-marah.
Beginilah pendidikan di negeri ini.
Biaye pendidikan semakin tinggi.
Anak terlantar sekolahnye tak terongkosi.
Banyaklah anak yang kawin dini.
Kembali kite pade pelajaran.
Pelajaran agame mengkaji Al-qur'an.
Akidah ahlak tentang ketauhidan.
Fiqh tentang hukum dan aturan.
Sejarah kebudayaan Islam juga perlu.
Supaye tahu kejayaan Islam mase lalu.
Mengembalikan kejayaan Islam itu sangat perlu.
Tetapi mesti mengikuti aturan yang berlaku.
Al-qur'an hadist dipelajarilah.
Itu sebagai tuntunan ibadah.
Supaye tak lupa pelajaran jam sekolah.
Harap diulangi lagi setelah di rumah.
Demikian ini sajak syair.
Semoge sukses kite berkarir.
Pade hukum Allah janganlah kite mangkir.
Perjalanan hidup di dunie ini jangan dianggap pelesir.
Demikian sebagai pengingat.
Untuk saudare anak dan sanak kerabat.
Lebih-lebih untuk seluruh umat.
Tetaplah kite saling memperkuat.
Cukuplah ini madah.
Mohon maaf kate yang salah.
Saye tutup sayir ini dengan al-hamdulillah.
Akhir kate wassalammu'alaikum warahmatullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.