SYAIR GULONG " TRADISI SYA'BAN"
Assalamualaikum warahmatullah.
Izin kan saye menguraikan madah.
Dengan bermule bacaan bismillah.
Syair gulong terbuka sudah.
Dengan bismillah kate bermule.
Ampon maaf tesalah bahase.
Diri ini insan manusie.
Penuh khilaf dose dan niste.
Maaf dipinta sepuloh jari.
Tangan berjabat menyentoh hati.
Segale dikate nasehat diri.
Tiadelah maksud untuk menyakiti.
Kalam Ilahi si kitabullah.
Dibace jangan setengah- setengah.
Sekalipon leteh tundok tengadah.
Jike paham suntonglah sudah.
Berhubung ini bulan sya'ban.
Malam nusfu pun sudah pertengahan.
Inipon dikenal bulan ruahan.
Orang kawenpon beseretahan.
Hari berganti hari.
Bulan dan taon sileh berganti.
Semoge panjang umor murah rezeki.
Sehat badan roh jasmani.
Banyak yang hendak menikah.
Di bulan ini dak dapat ditegah.
Demikian juga yang naik beruah.
Penohlah acare rumah ke tanah.
Mungkin ini sudah budaye.
Adat dijunjung jadi petue.
Mengikut syara' sendi agame.
Tiadelah boleh untuk dicele.
Namun kadang melelaen.
Macamlah budaye yang udah paten.
Lampu mati berganti lilen.
Katenye bah udah ade PLN.
Kalok udah dekat puase.
Mulai muncol adat budaye.
Sendike berubah ingat orang tue.
Bekirim hajat beserte do'e.
Jike kite melihat iklan.
Endak di TV radio dan koran.
Iklan sirop bekeluaran.
Lampu idop mati jadi amalan.
Udah tau dekat puase.
Tentulah semue siap sedie.
Ini malah menyumpah menjadi biase.
Akibat marah listrik mati tibe- tibe.
Ini budaye yang baru.
Namun sudah dari dahulu.
Listrik hidop mati tiade tentu.
Di perumahan pejabat malah hidop selalu.
Harge sembako mulai berubah.
Jangan diharap menjadi murah.
Duit dicari semakin susah.
Namun bulan ini banyak acare menikah.
Sampai nanti di tujoh likor.
Demikian waktu yang masyhor.
Nikah di KUA pon udah besyukor.
Beharap pengantin baru janganlah tekor.
Harge barang naik melonjak.
Ekonomi ke bawah terase diinjak.
Banyak barang tiada berpajak.
Pelakunyepon hilang tiade jejak.
Jike datang bulan puase.
Senanglah hati rasa gembire.
Bekumpol dengan sanak keluarge.
Pas maok buka lampupon mati tibe- tibe.
Inilah tradisi seban taon.
Pejabat terkait hanye jadi penonton.
Sunggoh sumpah kami tiade ampon.
Janji yang belom tunai dianggap bon.
Kaye raye tanah kami.
Segale ade diperut bumi.
Kenape pula macam begini.
Urusan listrik selalu tibe- tibe mati.
Kurang duit konsumen bayar.
Namun pejabatnye makin mendelar.
Sunggoh alasan di luar nalar.
Jike mesen dak bagos mending dibakar.
Bulan puase kite taraweh.
Shalat dan mengaji bebueh- bueh.
Yang bekerjepon tetase leteh.
Jike lamabat bayar listrik pasti ditageh.
Tolong kami untuk terang.
Bulan puase ibadah malam dan siang.
Jangan kami belapar engkau kenyang.
Hidopkanlah listrik jangan kepalang.
Barang dipasar ditengok- tengok.
Barang yang langka ditimbon belonggok.
Jangan agik kenak segok.
Jangan sampai kami gantong periok.
Tradisi orang nikah tentu bagos.
Tradisi beruahan itupon haros.
Tradisi barang naik itu yang buat mampos.
Tradisi mati lampu buat setrok beimfos.
Inilah kenyataan.
Seban taon telah dirasekan.
Sunggoh ini tiade padan.
Sakitkan hati resahkan badan.
Pasar juadah mulai dibangon.
Di tepi jalan mulai tersuson.
Inipon tradisi seban taon.
Sunggoh bagos jalan macet ditonton.
Tiade terase tibe puase
Pengeluaran pasti tiade terkire.
Tahun ajaran barupon udah depan mate.
Bayar itu ini jadi beban orang tue.
Inilah bulan nisfusya'ban.
Semue yang sunnah kite jalankan.
Siapkan diri sambut ramadhan.
Amponkan maaf atas kesalahan.
Bulan ruahan bebace doe.
Sedekah makan mendapat pahale.
Jangan dilupak jase orang tue.
Ruahanlah jike mampu untuk mereke.
Adepon taridisi yang berbede.
Macam lampu hidup mati semaok-semaoknye.
Itulah dose manusie.
Beharap gajih tiade kerje.
Suntonglah syair dikarang.
Kepak duduk baring telentang.
Syair gulong memanglah panjang.
Tiadelah maksod menyindir orang.
Cukup sudah syair di gulolong.
Jike tebace hatipon suntong.
Lain kali kite sambong.
Semoge memberi faedah dan untong.
Dengan menulis alhamdulillah.
Cukup am ini madah.
Ampon maaf kate yang salah.
Akhir kate wassalammulakum warahmatullah.
Oleh: Syekh Syair
Raja Bungsu
Pendekar Syair Gulong
Tuan Guru Zunaidi Nawawi Tuan- Tuan...Ketapang, 26 Mei 2016..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.