SYAIR KUBUR II
Pontianak, Sabtu 4 Juni 2011
Assalammu’alaikum Warahmatullah.
Kembali saye menulis madah.
Bermula niat dengan bismillah.
Kengkarangan syair gulung terbukalah
sudah.
Kembali saye menghibur.
Menyambung perihal tentang syair
kubur.
Dimuatlah suatu peristiwa yang
masyhur.
Banyaknye bait ini jangan diukur.
Awal bermula suatu kisah.
Tentang rahasia dialam arwah.
Kebenaranye tak dapat disanggah.
Hawatir nanti terkena tulah.
Apalah guna hidup sepanjang masa.
Tapi hidup makin bertambah dosa.
Bagaikan sebutir kelapa tua.
Semakin buruk tak jatuh-jatuh pula.
Orang mati diurus sekampung.
Orang hidup diurus membuat bingung.
Mengurus yang mati keluarge mau
menanggung.
Kalau ngurus yang idup selalu mau
untung.
Sekarang ini banyak usahe.
Macam-macam bentuk rupenye.
Multi level makin meraje lele’.
Itulah bisnis jaringan sepanjang
mase.
Orang mati dibungkus kafan.
Orang hidup sibuk mencari makan.
Segenap usahe dijalankan.
Biar mati tak berhutang tiang nisan.
Alkisah cerita tentang orang mati.
Dengar-dengar matinye aneh sekali.
Padahal hidup mati sudah tidak aneh
lagi.
Orang lahir dan mati silih berganti.
Sebagaimane meninggalnye mak ngah.
Orang sudah mati jangan dibuat
susah.
Cerite hidupnye jangan
ditambah-tambah.
Semue itu kuase Allah.
Ini orang-orang kote.
Sekolah tinggi sudah kemane-mane.
Ngurus orang meninggalpun dijadikan
berite.
Padahal ahliwaris masih berduke.
Perihal si jenazah.
Berite tak baik wajib dibantah.
Gedung-gedung dibangun megah.
Orang kote tak peduli lagi jike mati
tak menemu tanah.
Mengurus jenazah hukumnye wajib.
Rukun-rukunye haruslah tertib.
Tapi pemakaman Mak Ngah sangat
ajaib.
Lantaran ujung-unjungnye melibatkan
trantib.
Tanah wakaf semakin penuh.
Pemakaman muslim nampaklah kumuh.
Jalan menuju kuburanpun semakin
jauh.
Pengusung jenazahpun berpeluh-peluh.
Ahli waris menangis-nangis.
Lantaran harte bende almarhum telah
habis.
Sungguh ini kisah yang tragis.
Zaman orang tue kaye malah anak jadi
pengemis.
Jike di kote ribut masalah kubur.
Kadang tanah wakafpun sering
digusur.
Tiang nisan tidak lagi teratur.
Kadang nisanpun mepet ke diding
dapur.
Lain lagi perihal di kampong.
Orang mati baru katenye bangkit jadi
pocong.
Bise benar bise juga bohong.
Benar salah tak pula ade untong.
Orang kote takut antu jelu.
Sungguh itu sangat terlalu.
Itulah tande iman tidak bermutu.
Kepade Allahlah kite mesti menyeru.
Orang mati itu pakaianye seragam.
Demikianlah menurut ajaran Islam.
Pembungkusnye kafan putih jangan
lagi macam-macam.
Jangan dibangge pakaian hidup yang
beragam.
Berbeli tanah membangun rumah.
Begitu mati sibuk mencari tanah.
Halaman rumah diperluas dan megah.
Orang kaye matipun numpang tanah
wakaf karene murah.
Orang hidup samalah mati.
Lantaran hidup fisik taak berhati.
Aturan hiduppun banyak menyalahi.
Tunggulah azab dari Ilahi.
Mayat dibungkus ujong keujong.
Diarak ramai orang sekampong.
Sikse kubur masing-masing menaggong.
Sekaranglah kite same-same
mengusong.
Jike ingin panjang umur.
Amal baik dipupuklah supaye subur.
Buatlah karya bermanfaat yang terus
masyhur.
Walau hanye syair gulung yang menghibur.
Rumah-rumah semakin rapat.
Mayat dikubur kehabisan tempat.
Kuburan orang sekarang tak ade yang
keramat.
Rumah orang miskin tergusur karena
tiangnye tak kuat.
Mau mati jangan banyak tabiat.
Ingat-ingat alam akherat.
Tak aneh di dunie ini banyak
melarat.
Haraplah akidah di jage kuat-kuat.
Cukup sudah syair kubur.
Syair gulungpun menjadi masyhur.
Saye hanye sekedar menghibur.
Baik ditulis demikian juga saye belajar
bertutur.
Cukup sudah yang saye karang.
Maaf jike banyak yang kurang.
Jangan pula ditambah dengan semabarang.
Lain adat saye lainlah adat orang.
Dengan mengucap alhamdulillah.
Perihal kubur itu kuasa Allah.
Mudah-mudahan ini menjadi faedah.
Wassalammu’alaikum warahmatullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.