oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 08 Juni 2011 jam 14:32
Asalammu'alikum Warahmatullah.
Mengharap kite rahmat Allah.
Awal bermule kite bace Bismillah.
Syair gulung terbuka sudah.
Bismillah itu kalam Ilahi.
Syair gulung budaye kite sindiri.
Maaf jike menyinggung hati.
Bahase yang saye tulis sudah berhati-hati.
Kembali saye menyambung.
Terkait Ramdhan datang terselubung.
Hari-harinye sudah dapat dihitung.
Jike dapat bertemu kitepun beruntung.
Syair ini sebagai pengingat.
Agar kite hati-hati dalam berbuat.
Kepade Tuhan jangan membuat tipu muslihat.
Kite baru berniat jahat Allah sudah melihat.
Dalam syair ini saye muatkan kisah.
Tentang keutamaan suatu ibadah.
Dijalankan terase berat sudah.
Mesti menahan nafsu bersusah payah.
Awal bermule kite pelajari hukum.
Saling memberi tahu sesama kaum.
Di hari itu haram menghayal mesum.
Ape lagi selain muhrim jike bercium.
Jike umat-umat terdahulu.
Panjang umurnye sangat terlalu.
Tentu kite tak bise meniru.
Make di bulan Ramadhanlah kite di jamu.
Berbede dengan bulan-bualan biase.
Hanye Senin Kamis kite berpuase.
Tapi di bulan Ramadhan sangat berbede.
Satu bulan kite lapar menahan dahage.
Bukan kite hanye menahan lapar.
Tapi juga mesti banyak bersabar.
Dapat pahalanyepun sangat besar.
Masjid-masjidpun mulai diperbesar.
Ramadhan ya Ramadhan.
Kepade Allah kami mohon agar ditemukan.
Banyak sudah yang telah dipanggil Tuhan.
Di bualn Ramadhan tahun ini sudah berbungkus kafan.
Banyaklah wanita memaki jilbab.
Lantaran bulan Ramadhan sebagai sebab.
Padahal dalam Islam itu sebuah adab.
Menutup aurat mesti berhijab.
Banyaklah laki-laki memakai sarung.
Diikat di perut besarnye bergulung-gulung.
Berzikir di masjid main berhitung.
Mengharap supaye dapat untung.
Dibulan Ramdhan bukan malah sepi.
Suare mercon di sana sini.
Bagi yang jantungan jangan sembahyang sendiri.
Terkejut suara mercon tersentak mati.
Listrik akan padam.
Itu sudah jadi hukum alam.
Tak perduli siang atau malam.
Pergi ke masjid malah pacaran diam-diam.
Mulai kite bersiap-siap.
Masuk bulan Sya'ban kite sudah sigap.
Lancarkan agaji yang masih tergagap-gagap.
Jangan mudah tergode dengan aroma yang sedap.
Sekolah-sekolah tak mesti libur.
Di rumah siswa malah menganggur.
Makin susah untuk diatur.
Karene orang tuenye sibuk siapkan berbuka dan bersaur.
Jangan lupa untuk teraweh.
Jike banyak makan berbuka badanpun leteh.
Perut kenyang nafas terbengeh-bengeh.
Bergerak payah macam kena tindeh.
Sehari dua hari tak terase.
Tau-tau sudah dekat hari raye.
Mulai sibuk berbelanje.
Buat kue dan berganti baru baju celane.
Anak dan adik harap diajari.
Suruh puasa walau hanye setengah hari.
Ini khusus yang masih berusia dini.
Beri hadiah mereke jike sukses menjalani.
Bulan puase jangan beribut.
Semue jenis juadah lalu disebut.
Belaje juadah berebut.
Padahal belum tentu tertampung perut.
Justru kite mesti sederhane.
Berbuka dengan air putih dan kurme.
Itu sunnah Rasul untuk berbuka puase.
Ini malah berbuka dengan hidangan memenuhi meje.
Banyak-banyaklah bersedekah.
Ngisi kotak amal janganlah serupiah dua rupiah.
Terutame bagi yang sudah haji ke Mekah.
Berzakatlah kite nanti dengan berzakat fitrah.
Ingat-ingat dengan setan.
Untuk mengahadapinye kite mesti ingat Tuhan.
Makan minum kite jangan sembarangan.
Haraplah ini diketahui tuan dan puan.
Ini sebagian isi Syair gulung.
Sepanjang Ramdhan nanti insyaallah disambung.
Panjang syair saye jangan dihitung-hitung.
Berubah baiklah diri jike tersinggung.
Cukup sudah ini madah.
Saye hanye menyampaikan suatu petuah.
Dengan mengakhiri cerite Alhamdulillah.
Akhir kate Wassalammu'alaikum Warahmatullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.