SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Kamis, 16 Juni 2011

SYAIR TENTANG ORANG-ORANG


Dikarang Oleh : ZUNAIDI
Pontianak, 16 Juni 2011

SYAIR TENTANG ORANG-ORANG

Assalammu'alaikum Warahmatullah.
Izinkan saye menyampaikan madah.
Dengan bermula membace Bismillah.
Syair gulung saye tuliskan sudah.

Dengan bismillah diawal kengkarangan.
Syair ini kembali memuat pesan.
Dibace boleh di hapus jangan.
Isinye yang baik mohon diamalkan.

Dengan bismillah permulaan kalam.
Syair dikarang diwaktu yang larut malam.
Saye karang dengan diam-diam.
Saye sediekan pelite jike listrik padam.

Kain sarongpun saye gulung sepinggang.
Otak sarafpun dibuat tidaklah tegang.
Sambil berpikir menulislah tangan.
Inilah die namenye kengkarangan.

Lihatlah kondisi kite.
Macam-macamlah tingkah manusie.
Ade yang mengile-gilekan harte.
Sampai-sampai berebut barang pusake.

Inilah katenye zaman perdaban.
Tapi banyaklah berprilaku macam setan.
Sesame manusie saling memakan.
Sedikit yang perjake sedikit pula yang perawan.

Orang miskin dilarang sakit.
Lantaran jike berobat banyak keluar duit.
Pihak rumah sakitpun sangat pelit.
Mengurus pasien banyak dipersulit.

Banyak wanita memakai baju.
Tapi pakaiannye tak tentu rudu.
Berpakaian ketat dadapun nampak maju.
Di sanalah mata lelaki tertuju.

Orang mengemis makin bertambah.
Orang kayepun berpura-pura susah.
Orang-orangpun berebut jadi kuli pemerintah.
Hal ini sangat sulit untuk dibantah.

Jangan diri bermalas-malas.
Dengan amal sedikit jangan cepat puas.
Berbuatlah dengan prilaku yang pantas.
Jangan tamak seperti binatang buas.

Banyak orang oprasi plastik.
Perempuanpun mewarnai bibir memakai lipstik.
Tentulah laki-laki jadi tertarik.
Perempuanpun jadilah panik.

Bedalah nenek-nenek dalam suatu negeri.
Baik di kampong maupun di kote ini.
Di kampong nenek-nenek banyak bersugi.
Di kote nenek-nenek malah sibuk merumpi.

Kakek-kakek juga demikian.
Makin tua malah maseh kepengen pacaran.
Itulah waktu muda kegaulan.
Sudah tua malah tak ingat uban.

Bapak-bapak sibuk usahe.
Sibuk masalah urusan kerje.
Sambilan pula die bermain mate.
Sudah di rumah baru ingat keluarge.

Ibu-ibupun tambah parah.
Sibuk arisan rumah ke rumah.
Anakpun entah kemane hutan tanah.
Anak rewel baru marah-marah.

Surge di bawah telapak kaki ibu.
Itupun jike kakinye terawat dan tidak bau.
Make baik-baiklah menjage prilaku.
Agar anak dapat menggugu dan meniru.

Haripun semakin larut.
Tak kedengaran suare orang beribut.
Maaflah jike saye tersalah menyebut.
Dunie akherat saye jangan dituntut.

Beginilah madah.
Isinye kadang membuat resah.
Dikarangpun bersusah payah.
Itupun belum tentu saye mendapat upah.

Adat budaye harus tegak.
Bukan diri malah yang berlagak.
Jangan gak'am bermain lelaki bermain betinak.
Karene itulah jemis makhluk yang jinak.

Cukup sudah ini kisah.
Bagi yang mau membce saye tak menegah.
Tapi janganlah lalumarah-marah.
Nanti dosenye semakin bertambah.

Saye ucapkan terimakasih.
Semoge saye dan tuan tidaklah letih.
Sesame kite saling berlatih.
Positifkan pikiran hatipun jernih.

Dengan mengucap alhamdulillah.
Saye sudahi ini madah.
Semoge mendapat rahmat dari Allah.
Akhir tulisan Wassalammu'alaikum Warahmatullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.