SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Selasa, 20 September 2011

SYAER GULONG "HIDOP BERSAMBONG NYAWE"

oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 19 September 2011 jam 19:49

Assalammu'alaikum warahmatullah.
Terurai kate baguslah marwah.
Sajak rampai berbahse indah.
Syaer golung tetulislah sudah.

Sepanjang mase kite hdup.
Banyak sudah udare yang terhirup.
Banyak nikmat tak pula cukup.
Hati-hati pintu rezeki kena tutup.

Hati nan pilu mangantar maksud.
Perlu diurai agar tak menjadi hasud.
Jangan pula diri menuggu lulud.
Ingat Tuhan baru terpakse bersujud.

Lihatlah orang berbungkus kafan.
Elok indah bersih die dimandikan.
Die tak bise sibuk berjalan.
Demikian juga jauhlah dari angan-angan.

Lihatlah kuburan di tanah wakaf.
Semoge kite insaf.
Jangan dilalaikan segale khilaf.
Percepatlah diri saling memberi maaf.

Lihatlah orang yang jande.
Demikian pula laki-laki yang dude.
Sebatas itukah jodehnye.
Cerai mati itulah cinte yang dalam bermakne.

Awal cinte bersayang-sayang.
Lambat lekas jadi jemu lalu dibuang.
Demikian cinte tak beriring sembahyang.
Kaseh tumbuh sebatas mate memandang.

Jarang orang memberi nasehat.
Tapi banyak berebut mengikut jalan sesat.
Iman dan taqwe harus diperkuat.
Jike tidak hidup melarat.

Saye liat orang suke berpolitik.
Suke nonton acare yang mengelitik.
Tapi atas segenap kejadian hikmah tak terpetik.
Hati dengan manusie berwatak tengik.

Ape dampak di negeri ini.
Lihatlah segenap yang telah terjadi.
Terase tidak aman di sana sini.
Dekatkanlah selalu diri pade Ilahi.

Hidup kite berkawan-kawan.
Berkumpul sesame berbagi makan.
Saling menyape ketemu di jalan.
Ape yang salah saling mengingatkan.

Pernah liat orang yang bute.
Jalannye die merabe-rabe.
Tapi dengan duit  tau menau die.
Make jangan pulak diri orang dikate-kate.

Sekarang musim penghujan.
Payahlah jike mau jalan-jalan.
Tapi alhamdulillah penoh aik di tempayan.
Dapatlah mewah nyuci piring dan pinggan.

Jike hujan jalanpun banjir.
Padahal kote ini jauh dari pesisir.
Tanahnye berlumpur sedikit berpasir.
Hati-hati bejalan nanti tergelincir.

Adat budaye ditinggal jauh.
Dianggap tabu membuat jenuh.
Belajar sedikit mulai mengeluh.
Adat bersandar syara' diri mestilah patuh.

Bagaikan ayam memantuk padi jemor.
Bagaikan bebek cari makan menyosor.
Jike beramal jangan takut tekor.
Jangan pula berharap cepat tersohor.

Kate indah baik disanjung.
Bersandar sendi bungalah tanjung.
Elok didengar kicauan burung.
Terdengar dekat bagaikan singge meraung.

Kain kafan putih berseri.
Membungkus badan yang telah mati.
Dipendam dalam tanah yang tergali.
Selamenye menjelang kiamat tak kembali.

Selendang songket mesti ditenun.
Dengan jarum dan jari benang dituntun.
Tahan jadinye bertahun-tahun.
Tapi takkan jadi bile benang salah tersusun.

Sekuntum bunge tumbuh merampai.
Paduke alam hendak mencapai.
Tapi ape gune tangannye tak sampai.
Bunge mekarpun tak sudi dipetik hati yang lalai.

Sebentuk cincin melingkar di jari.
Emas disepuh pemikat jadi.
Jari yang mane jari yang paslah yang dicari.
Jike tak dikanan paslah di jari kiri.

Hidup ini bersambung nyawe.
Separuh nyawe kite jalani di dunie.
Setelahnye entah di surge atau di nerake.
Tergantong pade arahan diri kite.

Sepanjang umur melangkahi maut.
Pade masenye tetap pula ikut.
Kemane malaikat maok mencabut.
Semestinye ruh akan turut.

Sejalan dengan akal budi pekerti.
Agame patut dipelajari.
Jangan ingat menjelang besunat nikah dan mati.
Keraslah lidah dan bekulah hati.

Demikian syaer ini mengurai madah.
Katenye berlindung disajak yang indah.
Banyak makne bahase jangan diartikan salah.
Segale yang benar hanye kepunye'an Allah.

Dengan menyambot rahmat Allah.
Saye cukopkan ini madah.
Beserte niat menengadah alhamdulillah.
Akher kate beserte wassalammu'alaikum warahmatullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.