oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 6 Desember 2011 pukul 4:06
Assalammu'alaikum warahmatullah.
Kembali saye merangakai sajak indah.
Beserte dengan membace bismillah.
Syair gulung tetap sebagai petuah.
Walau malam semakin larut.
Menahan ngantuk kening berkerut.
Daripade banyak hal yang disalah sebut.
Takut pula nanti ade yang menuntut.
Semakin malam semakin tenang berfikir.
Demikian pula syahdu jike berzikir.
Terase di dalam diri Tuhanpun hadir.
Mencari tempatlah bagi musyafir.
Sebagaimane indah sejuk tetes embun.
Tak apelah jike diri berembun.
Itulah pengorbanan agar bait dapat tersusun.
Tak masalah biar macam manepun.
Sembari waktu ditunggu pagi.
Fajar subuh selalu dinanti.
Segar terkena bias cahaye matahari.
Terase diri tau mau berajak pergi.
Azan menggema menyambut fajar.
Tande subuh datang tak dapat dihindar.
Ke masjidlah diri mesti bekejar.
Jangan pula masih bergulung di dalam tikar.
Serangakai indah tulisan arab.
Terpampang di depan mihrab.
Walau mate sedang sembab.
Kepade Allah diri wajib menghadab.
Janganlah masjid-masjid itu terbuang.
Lalu kite menggapnye menjadi hilang.
Ingatlah masjid itu bukan hanye sekedar sembahyang.
Tetapi tempat bagi yang maok menang.
Sajadahnye penjang ujung keujung.
Sedikit yang hadir jamaah yang berkerudung.
Hanye orang tue laki-laki setengah sab berkain sarung.
Sungguh demikian pantaslah untuk disanjung.
Masjid yang tenang walaupun hanye bertikar pandan.
Bertiang kayu dan berdinding papan.
Tegak berdiri dari zaman kezaman.
Namun sekarang sudah berubah jauh dari peninggalan.
Terhampar luas hutan dan tanah.
Bumi dan langit terbentang megah.
Itulah bagian dari masjid Allah.
Selagi bersih bentangkan saja sajadah.
Kemane arah kiblat.
Kearah itulah kite melihat.
Lalu kepade Allah kite menginggat.
Hilangkan ingatan yang lain sesaat.
Diwaktu kecil dahulu.
Di masjid itu pula kite mengaji kepade guru.
Kini semakin jauh kite menuntut ilmu.
Apekah dengan masjid itu kite masih ketemu.
Masjid yang semakin jauh.
Ataukah hati kite yang tak mau menempuh.
Janganlah tiang-tiang masjid menjadi rapuh.
Bertande agame pade diri akan runtuh.
Masjid-masjid yang bertabir kain.
Penyekat pandangan yang tak berizin.
Laki-laki dan perempuan berdiri pade sab yang lain.
Tanpe pembede kaye atau miskin.
Dimane masjid yang duduk tanpa dipesan.
Siape yang dahulu datang dielah pade sab depan.
Tidak di kosongkan untuk pejabat yang datang akhiran.
Dimane masjid itu ya Tuhan.
Dimane masjid-masjid yang tidak terkunci setelah isya.
Tempat musyafir yang bisa bermalam juga.
Lantaran barang yang tak aman katanya.
Padahal tugas penguruslah untuk menjaga.
Dimane masjid imamnya menawarkan kepade pemude.
Tidaklah yang mude-mude selalu dibelakangnye.
Tue-tue ompong masih juga tak percaye.
Setelah die mati pemudepun belum siap sedie.
Masjidnye teduh beratapkan daun.
Indah dipandang lantainye rapi tersusun.
Kubahnye membuat diri tertegun.
Tak perlu berdiri dengan waktu yang menahun-nahun.
Kini sudah jauh kite berjalan.
Apekah masjid itu masih kite temukan.
Atau perlukah kite bertanya kepade Tuhan.
Atau masing-masing kite telah disesatkan setan.
Masjidnye itu ramailah jamaah.
Setiap salat fardhu banyak memakan sajadah.
Dimane masjid itu entahlah.
Mungkin di pondok pesantren yang santrinye banyak yang sekolah.
Masjid kokoh menjulang tinggi.
Bunga rampai mekar disenja pagi.
Huruf-huruf arab di dindingnya berjejer rapi.
Sepanjang waktu dan tahun tak pernah sepi.
Masjidilharam atau masjid nabawi.
Masjid quba ataukah masjid nabi.
Masjid itu tidak ada disana sini.
Bukan pula hanya di mekah dan madinah tapi juga dihati.
Demikian masjid yang hilang.
Selalu dicari pagi malam dan siang.
Lama sudah hati ini tergenang.
Ke masjid aku ingin berpulang.
Wahai pesajak yang indah.
Mudah-mudah ini membawa berkah.
Sebagi amal bernilai ibadah.
Semate-mate pengingat diri kepade Allah.
Dengan alhamdulillah.
Cukuplah ini madah.
Mohon maaf nasehat yang salah.
Akher kate wassalammu'alaikum warahmatullah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.