SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Selasa, 07 Juni 2011

SYAIR MARHABAN YA RAMADHAN I

SYAIR MARHABAN YA RAMADHAN I

oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 07 Juni 2011 jam 13:28
 
Assalammualaikum Warahmatullah.
Ini salam kalimat toyyibah.
Wajib di jawab haram disanggah.
Syair gulung dibuka dengan berawal bismillah.


Mari kite persiapkan diri.
Menuju bulan yang suci.
Sekarang Bulan rajab dibulan ini.
Bulan yang Agung tinggal berbilang hari.


Bulan rajab  setelahnye sya'ban.
Setelah sya'ban bulan Ramadhan.
Sucikan diri sucikan badan.
Umur kite mudah-mudahan dipanjangkan.


Jangan dikira masih lama.
Tau-tau Ramdhan sudah di depan mata.
Barulah sibuk mengurus usaha.
Sebelumnye banyak berleha-leha.


Siap-siapkan diri untuk berkemas.
Jangan biasekan diri bermalas-malas.
Menurutkan nafsu tidaklah puas-puas.
Ujung-ujungnye mendapat na'as.


Harte bende dapat dicari.
Berkerja dari pagi ketemu pagi.
Waktu ibadah banyak dikurangi.
Banyak beribadah sudah mendekati mati.


Hidup jangan mengeluh.
Jangan sedikit-sedikit berkate aduh.
Bile panas berjalan boleh berteduh.
Kepade Allah janganlah menjauh.


Orang sekarang banyak menyombong.
Banyak berbual jike mengomong.
Sikit-sikit minta disanjong.
Salah berbuat tak mau menanggong.


Ape beda laki-laki dan perempuan.
Saye harap taualah tuan dan puan.
Janganlah diri dipandang sebagai insan.
Jike banyak melanggar kodrat Tuhan.


Lihatlah para bencong.
Itulah prilaku yang menyelonong.
Mereka malu memakai sarong.
sukanye pakaian ketat ujong ke ujong.


Nampaklah para banci.
Perempuan bergaya laki-laki.
Dipanggil abang ia senang sekali.
Itulah gambaran di zaman ini.


Apekah mereka salah.
Bukankah itu melanggar kodrat Allah.
Mengubah diri kenape setengah-setengah.
Kodrat dilanggar hukumnye tulah.


Penyakit kelamin banyak menular.
Akibat nafsu yang salah keluar.
Lantaran banyak berjual diri di pasar-pasar.
HIV dan AIDSpun banyak menyebar.


Generasi mude menjadi korban.
Akibat semue tak memperdulikan.
Mereka hidup tak patuh aturan.
Hilang sudah suatu perdaban.


Sekarang penyakit bermacam-macam.
Halal haram orang main hantam.
Maksiat siang dan malam.
Mengingat Allahlah hati menjadi tentram.


Generasi negeri ini banyak yang sakit.
Terkena penyakit bukan sikit-sikit.
Ade yang kena ayan mati diparit.
Sampai-sampai ade yang sakit diburit.


Nenek suke berkemban.
Suke mandi ditepian jalan.
Gadis-gadis banyak menirukan.
Memakai baju tapi tak mentup badan.


Inilah zaman yang aneh.
Orang-orang suka menyeleneh.
Perempuan lelaki suke bertindeh-tendeh.
Melaherkan anak dak pandai leteh-leteh.


Anak gadis dikawinkan mude.
Sebulan dua bulan dah jadi jande.
Lalu mau menjadi ape.
Ujung-ujungnye berjual barang bende.


Anak yatim bayak tak diurus.
Anak belum lahir dah dibuat mampus.
Anak yang lahir kurang gizi dan kurus.
Tande pemerintah menjabat tak bercus.


Katenye ade urusan sosial.
Adenye malah membuat sial.
Bukan maksud mencari tegal.
Instansi ini dengan rakyat banyak membual.


Siape yang membidangi pendidikan.
Tentu ade dinas yang bermain peran.
Buktinye yang mampu sekolah hanye orang mapan.
Masyarakat miskin mau sekolah masih ade bayaran.


Masalah Ketuhanan ade pula yang membidangi.
Urusan agame dapat di jual beli.
Ladang koropsi di sini subur sekali.
Di instansi lain apetah lagi.


Bagaimane aparat penegak hukum.
Menyikse sesame kaum.
Takut benar dengan ahli nujum.
Banyak pula oknum yang berbuat mesum.


Suami istri banyak bercerai sekarang.
Lantaran hanye urusan uang.
Si istri marah-marah bukan kepalang.
Sang suamipun takutlah pulang.


Hati-hati memakai motor.
Berkendaraan janganlah teledor.
Jalan raye sekarang hancur dilewati traktor.
Pejabat instansi hanye berdiam di kantor.


Anak-anak suke dimanja.
Dimanja dengn menurutkan kemauannya.
Jadi malaslah anak untuk bekerja.
Taunye hanye menghamburkan harta orang tua.


Jike hujan turun jalanpun banjir.
Tak mempan pejabat jike hanye disindir.
Diajak bertemu malas untuk hadir.
Takut diminta sumbangan karena kikir.


Pak haji berkopiah puteh.
Kemane-mane membawa tasbieh.
Mengurus duit semangat ngurus anak terase leteh.
Wajarlah anak pak haji banyak berprilaku aneh.


Jadi pejabat bertahun-tahun.
Berhenti tak berhenti karena pensiun.
Jabatanpun jadi warisan turun temurun.
Orang tak mampu hanye dapat melamun.


Hiburan malam ramai didatangi.
Tua muda tak mau peduli.
Sedangkan masjid malah sepi.
Hanye ramai setahun dua kali.


Orang tue membanting tulang.
Anak malah melintang pukang.
Di sekolahkan jauh ke negeri orang.
Malah tak kenal orang tua setelah pulang.


Demikian ini syair.
Bukan maksud saye untuk menyindir.
Sekedar menghibur bagi yang hadir.
Inilah syair bukan mantra bukanye sihir.


Semoge kite panjang umur.
Di bulan Ramdhan kite dapat bersaur.
Tidurpun mungkin tak sempat-sempat berliur.
Mau saurpun lupa berkumur.


Cukup sudah ini madah.
Mengharap kite rahmat dari Allah.
Kite tutup dengan alhamdulillah.
Wassalammu'alaikum Warahmatulla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.