oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 05 Juni 2011 jam 0:26
Assalammu'alaikum Warahmatullah.
Kembali saye memberi petuah.
Harap dibace ini madah.
Bace bismillah syair gulungpun terbukalah sudah.
Dengan bismillah permulaan kalam.
Memuji Allah halikul alam.
Lewat kengkarangan ini saye mengirim salam.
Haraplah dibace jangan terdiam.
Wahai tuan dan puan.
Beserte hormat saye haturkan.
Adat budaye janganlah hanye disimpan.
Diamalkan boleh dihine jangan.
Andai diri hidup merantau.
Kampung halaman jangan lupa ditinjau.
walaupun diri jauh tetaplah dipantau.
Bile tergenang tidurpun mengigau.
Anak bangsawan keturunan raje.
Tidaklah patut tak kenal adat budaye.
Tapi sekarang dapat dilihat dengan mate.
Banyak dari mereke menggilekan harte.
Kerajaan berdiri megah.
Keraton dan pondopo hilang petuh.
Ini lantaran kurang perhatian pemerintah.
Mau membangun tapi memilah sejarah.
Orang Melayu jangan dikate.
Nenek datoknye keturunan raje.
Demikian sejarah senusantare.
Terbukti dan tak dapat dicele.
Walaupun hidup berbeda suku.
Mari kite saling bersatu.
Masalah ilmu kite saling berguru.
Jangan mau karena politik kite diadu.
Bile kelak memilih pemimpen.
Pilehlah dengan sangat telaten.
Jangan pileh yang prilaku macam jen.
Walaupun duit sebagai mesen.
Jike ade pemilu.
Isu budaye dibawalah selalu.
Itulah orang politik berpilaku macam antu.
Jangan dipilih jang pula ditiru.
Banyak adat disalah gunekan.
Dipakai untuk mencari makan.
Menjadikan budaye politik tak berhaluan.
Kite yang beradat malah jadi korban.
Hati-hati dengan isu perbedaan suku.
Mengagap Tanah Air punye suku yang satu.
Tokoh-tokoh adat sukelah jike dijamu.
Padahal dijadikan politik sebagai perahu.
Andai kite cinte adat istiadat.
Untuk semue golongan mesti bermanfaat.
Jangan mengaku Suku terkenal untuk jadi pejabat.
Jike duduk jadilah orang jahat.
Jadi tokoh budaye berpakaian rapi.
Malah kampaye ke sana ke sini.
Rakyat kecil tak diurusi.
Malah sibuk mempertahankan kursi.
Wahai para tokoh adat.
Pintar-pintarlah bersiasat.
Gelar adat budaye harap dijadikan mandat.
Mandatkanlah gelar pade yang benar-benar taat.
Sungguh Tuhan Maha Kuase.
Diciptekannye kite jadi manusie.
Lahir kite dengan suke berbede.
Tentu itu bukan kemauan kite.
Walau saye pendekar syair gulung.
Bukan bearti saye suke bertarung.
Bagi saye itu tak ade untung.
Melestarikan adat budaye itulah saye junjung.
Sebagai tande Melayu bertuah.
Harap dijage keturunan darah.
Dimane berade selalu membawa faedah.
Tegakkan adat budaye dengan bermusyawarah.
Melihat suku banyak orang Melayu.
Banyaklah pejabat yang mengaku-ngaku.
Berbaju melayu tak tahu malu.
Supaye die jadi pejabat orang setuju.
Tegak sudah syariat Islam.
Menjalankan syariat siang dan malam.
Orang Melayupun menjadi tentram.
Siap sedia syahid terkubur dimakam.
Apebile adat budaye runtuh.
Orang beragamapun jadilah jenuh.
Kehidupan sosial akan menjadi rusuh.
Moral dan ilmu semakin jauh.
Dilanggar pantang dilangkah tulah.
Jangan main-main dengan isi petuah.
Walau ini hanye sekedar madah.
Bise jadi yang membace tersinggung dan marah.
Ilmu dapat dikalahkan petue.
Lantaran tingginye adat budaye.
Itu sudah menjadi tatakrame.
Untuk kite hidup sebagai keluarge.
Walaupun jauh tetap handai taulan.
Berbede suku agame tetaplah berkawan.
Asal jangan saling memakan.
Jangan pula saling mengatakan.
Bile suku lain ade rupe senjate.
Melayupun banyaklah barang pusake.
Senjate Melayu bukan pendang tombak atau pisau keris menyilaukan mate.
Tapi hanye ape yang diucap dan itulah yang dikate.
Ketemu ranting bergunelah die.
Ketemu pasir dan rotan jadi senjate.
Jadi tidaklah berbekal barang bende.
Dengan kalimat Allah semue bise bergune.
Wahai orang Melayu.
Tegakkan syariat kite bersatu.
Politik jangan membawa suku.
Suku lain jangan kite ajak bertinju.
Tak perlu kite saling membenci.
Tak usah jago mengajak berkelahi.
Adat budaye harus dititipkan kegenerasi.
Jangan'nam hilang dibawa mati.
Jangan berlomba-lomaba membangun rumah adat.
Ape gune dibangun tak membawa manfaat.
Hanye jadi tempat penyewaan acare sesaat.
Orang Melayu juga yang mendapat jahat.
Rumah adat Melayu tegak berdiri.
Dinding dan isinye indah tersusun rapi.
Tapi ujung-ujungnye banyak jadi rumah pribadi.
Dengan alasan pemimpin organisasi.
Wahai Melayu oh Melayu.
Ramai engkau diseluruh penjuru.
Namun repas bagaikan damar dikayu.
Tak bersumbu terbakar isu.
Betape sedih insan pemude.
Mengaku Melayu mengaji masih terbate-bate.
Itulah kurangnye perhatian orang tue.
Anak diberi duit tapi tak di ajari budaye.
Malang sungguh malang.
Oleh generasinye Melayu terbuang.
Tolonglah bantu saye seorang.
Melestarikan budaye ini di kampung orang.
Tidaklah Melayu suke bermalas.
Itu hanyelah pandangan sempit dan terbatas.
Justru Melayu orangnye berkerje keras.
wajar nenek moyangnye pendiri kerajaan yang cerdas.
Orang Melayupun tahu malu.
Menyampaikan saran dan kritik tidakalah mengajak bertinju.
Diwaktu yang tepat die menuggu.
Selalu menjage tingkah perilaku.
Inilah Syair tentang orang Melayu.
Syair yang sangat ditunggu-tunggu.
Ridho Allahlah yang saye tuju.
Kepade tuan dan puan saye tak ingin berseteru.
Cukup sudah kengkarangan ini.
Jangan dikate jangan dicaci.
Isi syair gulung memang begini.
Adat budaye sebagai petue yang tinggi.
Dengan membace Alhamdulillah.
Syair gulungpun ditutuplah sudah.
Anggaplah ini petuah di dalam madah.
Wassalammu'alaikum Warahmatullah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.