oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 27 Desember 2011 pukul 16:06
Assalammu'alaikum warahmatullah.
Kate terucap beserte dengan bismillah.
Maksud saye hendak mengutarekan madah.
Syair Gulungpun terbukalah sudah.
Salam hormat saye haturkan.
Kepade segenap umat keseluruhan.
Tuan dan Puan haraplah menjawab ini pesan.
Sebagai tanda turut menegakkan budaya zaman.
Seindah pusaka mustika.
Bergemilau bagaikan cahaya permata.
Demikian indah sajak pujangga.
Tapi tak diminati oleh para pemuda.
Puisi hanya sebagai ungkapan.
Dianggap tak banyak kiasan.
Demikian pula syair gulung mendapat penilaian.
Semua itu sekilas anggapan.
Diri hendak menegakkan adat.
Tapi salah pula jika melawan syariat.
Ajaran agamalah yang mesti diperkuat.
Agar umat tidak tersesat.
Jangan marah sekiranya disinggung.
Jangan berbangga jika disanjung.
Jangan selalu mempermasalahkan untung.
Jangan beramal selalu mau dihitung.
Tahun sudah dipenghujung.
Berharap libur pulang ke kampung.
Segala kehidupan banyak sudah diarung.
Jangan selalu berharap pada aji mumpung.
Perantau harus pulang.
Tak baik berlama di kampung orang.
Kampung sendirilah yang seharusnya membuat senang.
Sediakan bekal untuk perjalanan yang panjang.
Jika pulang senanglah hati.
Segala bekal disediakan untuk perjalanan nanti.
Waktu luang pastilah dicari-cari.
Pulang yang baik jika bekal mencukupi.
Jika ada waktu pulang semua berebut.
Sanak keluarga di kampung habis disebut.
Sapa yang ditawari pasti mengikut.
Barang bekal semua diangkut.
Perantau harus pulang.
Tak baik jika memikirkan diri seorang.
Sediakanlah bekal dari sekarang.
Mumpung waktu masih panjang.
Bagimana jika pulang ke alam baka.
Itu sama dengan pulang juga.
Di dunia ini kita perantau semata-mata.
Maka pulang jugalah kita kehadirat Alla ta'ala.
Pastilah Tuan dan Puan merengut.
Sebelumnya diajak pulang kampung mau ikut.
Sekali tahu kampungnye di alam akhirat yang malakut.
Jadilah takut dijemput malaikat maut.
Kitapun jangan mau nekat.
Bekal sedikit mau pulang kekampung akherat.
Namun umur tak tahu kapan diangkat.
Persiapan barang bekal kita harus berat.
Jika hidup banyak berjanji.
Dengan suami istri mau hidup semati.
Begitu di kubur ketika mati.
Ia tidak ikut malah cari pengganti.
Wahai orang-rang yang mati.
Kalian telah pulang mendahului kami.
Istri-istri mu yang cantik telah dinikahi lagi.
Suami-suami mu yang gagah telah kembali beristri.
Sewaktu engkau di kubur setelah mati.
Anak istri suami menagantar dengan tangis yang menjadi.
Tanah kuburan mu di tijak-tijak keras sekali.
Itu oleh orang dekat mu yang ikut menguburi.
Kau tinggalkan harta benda.
Sewaktu belum berpulang kau tumpuk banyak pula.
Sekarang telah dibagi-bagikan semua.
Kuburan mu saja mungkin sudah dilupa.
Perantau harus pulang.
Jangan lupa kampung diri seorang.
Saling mengingatkanlah kita dengan senang.
Jauhilah dikampung orang apa yang dipantang.
Tahun yang berganti.
Umurpun dihitung lagi.
Patokan pasti umurnya Nabi.
Enam puluh tiga tahun Beliau sudah dipanggil Ilahi.
Terkadang yang kecil dan muda pulang dahulu.
Tak mesti untuk ditunggu-tunggu.
Jadi bersiap-siaplah selalu.
Karena pulangnya kita tidak ada waktu yang tentu.
Pulang tidak dengan panggilan nama.
Tidak di jemput karena abzat huruf pertama.
Jika demikian adanya.
Nama saya Zunaidi urutan terakhir untuk meninggal dunia.
Perantau harus pulang.
Tujuan dan jalan kita mesti dibentang.
Perjalanan kita masih panjang.
Kehadirat Allah kita pasti akan pulang.
Maaf jika bersalah-salah.
Sekedar saya hanya mengurai madah.
Jika bait demi bait tidaklah indah.
Paling bagus tetaplah kalimat thoyyibah.
Salam ya salam.
Salam berhatur memuji Khalikul Alam.
Semoga ini membuat hati menjadi tentram.
Perenung diri siang dan malam.
Sudah siapkah kita pulang.
Jadwal keberangkatan Allah yang merancang.
Tak peduli tua muda anak istri suami saudara sahabat akan dikenang.
Sampailah jumpa jika berganti tahun kita berumur panjang
Demikian ini syair gulung.
Maaf jika berat menyinggung.
Masing-masing kita cari selamat dan mau untung.
Syair ini panjang ujung ke ujung.
Dengan mengucap alhamdulillah.
Saya tutup ini madah.
Mudah-mudahan mendapat berkah.
Akhir kate wassalammualaikum warahmatullah.
Kate terucap beserte dengan bismillah.
Maksud saye hendak mengutarekan madah.
Syair Gulungpun terbukalah sudah.
Salam hormat saye haturkan.
Kepade segenap umat keseluruhan.
Tuan dan Puan haraplah menjawab ini pesan.
Sebagai tanda turut menegakkan budaya zaman.
Seindah pusaka mustika.
Bergemilau bagaikan cahaya permata.
Demikian indah sajak pujangga.
Tapi tak diminati oleh para pemuda.
Puisi hanya sebagai ungkapan.
Dianggap tak banyak kiasan.
Demikian pula syair gulung mendapat penilaian.
Semua itu sekilas anggapan.
Diri hendak menegakkan adat.
Tapi salah pula jika melawan syariat.
Ajaran agamalah yang mesti diperkuat.
Agar umat tidak tersesat.
Jangan marah sekiranya disinggung.
Jangan berbangga jika disanjung.
Jangan selalu mempermasalahkan untung.
Jangan beramal selalu mau dihitung.
Tahun sudah dipenghujung.
Berharap libur pulang ke kampung.
Segala kehidupan banyak sudah diarung.
Jangan selalu berharap pada aji mumpung.
Perantau harus pulang.
Tak baik berlama di kampung orang.
Kampung sendirilah yang seharusnya membuat senang.
Sediakan bekal untuk perjalanan yang panjang.
Jika pulang senanglah hati.
Segala bekal disediakan untuk perjalanan nanti.
Waktu luang pastilah dicari-cari.
Pulang yang baik jika bekal mencukupi.
Jika ada waktu pulang semua berebut.
Sanak keluarga di kampung habis disebut.
Sapa yang ditawari pasti mengikut.
Barang bekal semua diangkut.
Perantau harus pulang.
Tak baik jika memikirkan diri seorang.
Sediakanlah bekal dari sekarang.
Mumpung waktu masih panjang.
Bagimana jika pulang ke alam baka.
Itu sama dengan pulang juga.
Di dunia ini kita perantau semata-mata.
Maka pulang jugalah kita kehadirat Alla ta'ala.
Pastilah Tuan dan Puan merengut.
Sebelumnya diajak pulang kampung mau ikut.
Sekali tahu kampungnye di alam akhirat yang malakut.
Jadilah takut dijemput malaikat maut.
Kitapun jangan mau nekat.
Bekal sedikit mau pulang kekampung akherat.
Namun umur tak tahu kapan diangkat.
Persiapan barang bekal kita harus berat.
Jika hidup banyak berjanji.
Dengan suami istri mau hidup semati.
Begitu di kubur ketika mati.
Ia tidak ikut malah cari pengganti.
Wahai orang-rang yang mati.
Kalian telah pulang mendahului kami.
Istri-istri mu yang cantik telah dinikahi lagi.
Suami-suami mu yang gagah telah kembali beristri.
Sewaktu engkau di kubur setelah mati.
Anak istri suami menagantar dengan tangis yang menjadi.
Tanah kuburan mu di tijak-tijak keras sekali.
Itu oleh orang dekat mu yang ikut menguburi.
Kau tinggalkan harta benda.
Sewaktu belum berpulang kau tumpuk banyak pula.
Sekarang telah dibagi-bagikan semua.
Kuburan mu saja mungkin sudah dilupa.
Perantau harus pulang.
Jangan lupa kampung diri seorang.
Saling mengingatkanlah kita dengan senang.
Jauhilah dikampung orang apa yang dipantang.
Tahun yang berganti.
Umurpun dihitung lagi.
Patokan pasti umurnya Nabi.
Enam puluh tiga tahun Beliau sudah dipanggil Ilahi.
Terkadang yang kecil dan muda pulang dahulu.
Tak mesti untuk ditunggu-tunggu.
Jadi bersiap-siaplah selalu.
Karena pulangnya kita tidak ada waktu yang tentu.
Pulang tidak dengan panggilan nama.
Tidak di jemput karena abzat huruf pertama.
Jika demikian adanya.
Nama saya Zunaidi urutan terakhir untuk meninggal dunia.
Perantau harus pulang.
Tujuan dan jalan kita mesti dibentang.
Perjalanan kita masih panjang.
Kehadirat Allah kita pasti akan pulang.
Maaf jika bersalah-salah.
Sekedar saya hanya mengurai madah.
Jika bait demi bait tidaklah indah.
Paling bagus tetaplah kalimat thoyyibah.
Salam ya salam.
Salam berhatur memuji Khalikul Alam.
Semoga ini membuat hati menjadi tentram.
Perenung diri siang dan malam.
Sudah siapkah kita pulang.
Jadwal keberangkatan Allah yang merancang.
Tak peduli tua muda anak istri suami saudara sahabat akan dikenang.
Sampailah jumpa jika berganti tahun kita berumur panjang
Demikian ini syair gulung.
Maaf jika berat menyinggung.
Masing-masing kita cari selamat dan mau untung.
Syair ini panjang ujung ke ujung.
Dengan mengucap alhamdulillah.
Saya tutup ini madah.
Mudah-mudahan mendapat berkah.
Akhir kate wassalammualaikum warahmatullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.