Assalammu'alaikum Warahmatullah.
Maaf sajak dikirim tidaklah indah.
Sekedar saye menyampaikan madah.
Syair gulung demikian sebagai petuah.
Saje saye panjang bertutur.
Jadi ampun maaf jike ngelantur.
Tapi sajak ini dibuat dengan jujur.
Semoge Tuan dan Puan yang bace tidak tertidur.
Awal bermule bacelah bismillah.
Sebagai pengakuan kebesaran Allah.
Demikian itu suatu ibadah.
Demikian syair gulung ini dianggap pula petuah.
Lama sengaje tidak bersua.
Semoge baik-baik sanak sekeluarga.
Ade waktu kapan kita berjumpa.
Ampun maaf lama tak berkirim berita.
Terkadang diri merase malu.
Dengan lamaknye tak ade bertamu.
Maklum kesibukan sudah tak tentu.
Banyak pula acare yang menunggu.
Doe dan harapan terhatur selalu.
Kepade Tuan dan Puan juga begitu.
Kapade Allahlah niat saye tuju.
Tuan dan Puan dengan doe saye janganlah ragu.
Bile ade yang sedang susah.
Mudah-mudahan urusannye dipermudah.
Hilangkan segenap rase gundah.
Dekatkan diri selalu kepade Allah.
Kain kuning indah dimate.
Berbias cahaye menyilaukan muke.
Bersahaje hidup bertambah warne.
Ujung-ujungnye kain putih pula pembungkus kite.
Bagaimane kabar diri.
Kisah yang baik itulah yang dikabari.
Jangan ade yang sedang bersakit hati.
Tiade obatnye selain mempercepat mati.
Sehat badan sehatlah rage.
Sehat rage panjanglah nyawe.
Namun sebagai manusie.
Hidup mati ditangan Allah yang Mahe Kuase.
Daun sirih hajau-hijauan.
Ranum dimakan pinang setandan.
Demikian dua jenis tanaman.
Menjadi nyaman hidup sekawan.
Heran sudah zaman sekarang.
Kawan dekat jauh dibuang.
Kawan baru sudah disayang.
Terpisahlah harapan kisah yang panjang.
Hidup berkeluarag semege rukun.
Dengan tetangga jangan malah berdukun.
Kepade Allah kite saling menuntun.
Saye inggatkan dengan bait syair yang tersusun.
Kisah baru menjadi kusam.
Jika esok jadi aib diwaktu malam.
Bagaimanalah hati akan menjadi tentram.
Make sesame diri jangan mendendam.
Suare gendang bertalu-talu.
Suare padi pecah ditumbuk alu.
Demikian hidup saling membantu.
Sehingge terdengar suare yang merdu.
Jangan salah diri ape lagi orang.
Diri seorang beratnye harus ditimbang.
Sehingge tau kapan akan pulang.
Ke negeri akheratlah jalan yang panjang.
Ukur baju samakan badan.
Jangan memakai ukuran lawan.
Biar tau sakit dan nyaman.
Hidup kite jangan sok-sok'an.
Marah itu penyakit hati.
Tinggi darah sulit turun lagi.
Walau dengan care terapi.
Tetap saja hati tersakiti.
Ketawa bahagia saja.
Hidup lepas mengikutu tuntunan agama.
Jangan hidup mengada-ada.
Nanti bisa-bisa jadi binasa.
Bait-bait tersusun panjang.
Maklum ini nasehat yang usang.
Sekedar untuk dapat dipandang.
Haraplah diri ini menjadi tenang.
Tiada manusia yang tanpa beban.
Banyak dipikul letih berjalan.
Make beban dibawa berlahan-lahan.
Jangan menambah beban jika tak tahan.
Demikian ini kengkarangan.
Demikian sebutan bagi orang tepian pawan.
Syair gulung lebih dikenalkan.
Sebagai warisan adat ketimuran.
Cukplah ini madah.
Sekedar untuk menambah ibadah.
Ampun maaf jike dianggap tidak sah.
Hanye saye berwakil kepade Allah.
Saye haturkan Alhamdulillah.
Syair gulung diakhiri sudah.
Salam untuk seluruh keluarge di rumah.
Akher kate Wassalammu'alaikum Warahmatullah.
Oleh: Zunaidi, S.Pd.I
Ketapang, Selasa 13 Maret 2012
Maaf sajak dikirim tidaklah indah.
Sekedar saye menyampaikan madah.
Syair gulung demikian sebagai petuah.
Saje saye panjang bertutur.
Jadi ampun maaf jike ngelantur.
Tapi sajak ini dibuat dengan jujur.
Semoge Tuan dan Puan yang bace tidak tertidur.
Awal bermule bacelah bismillah.
Sebagai pengakuan kebesaran Allah.
Demikian itu suatu ibadah.
Demikian syair gulung ini dianggap pula petuah.
Lama sengaje tidak bersua.
Semoge baik-baik sanak sekeluarga.
Ade waktu kapan kita berjumpa.
Ampun maaf lama tak berkirim berita.
Terkadang diri merase malu.
Dengan lamaknye tak ade bertamu.
Maklum kesibukan sudah tak tentu.
Banyak pula acare yang menunggu.
Doe dan harapan terhatur selalu.
Kepade Tuan dan Puan juga begitu.
Kapade Allahlah niat saye tuju.
Tuan dan Puan dengan doe saye janganlah ragu.
Bile ade yang sedang susah.
Mudah-mudahan urusannye dipermudah.
Hilangkan segenap rase gundah.
Dekatkan diri selalu kepade Allah.
Kain kuning indah dimate.
Berbias cahaye menyilaukan muke.
Bersahaje hidup bertambah warne.
Ujung-ujungnye kain putih pula pembungkus kite.
Bagaimane kabar diri.
Kisah yang baik itulah yang dikabari.
Jangan ade yang sedang bersakit hati.
Tiade obatnye selain mempercepat mati.
Sehat badan sehatlah rage.
Sehat rage panjanglah nyawe.
Namun sebagai manusie.
Hidup mati ditangan Allah yang Mahe Kuase.
Daun sirih hajau-hijauan.
Ranum dimakan pinang setandan.
Demikian dua jenis tanaman.
Menjadi nyaman hidup sekawan.
Heran sudah zaman sekarang.
Kawan dekat jauh dibuang.
Kawan baru sudah disayang.
Terpisahlah harapan kisah yang panjang.
Hidup berkeluarag semege rukun.
Dengan tetangga jangan malah berdukun.
Kepade Allah kite saling menuntun.
Saye inggatkan dengan bait syair yang tersusun.
Kisah baru menjadi kusam.
Jika esok jadi aib diwaktu malam.
Bagaimanalah hati akan menjadi tentram.
Make sesame diri jangan mendendam.
Suare gendang bertalu-talu.
Suare padi pecah ditumbuk alu.
Demikian hidup saling membantu.
Sehingge terdengar suare yang merdu.
Jangan salah diri ape lagi orang.
Diri seorang beratnye harus ditimbang.
Sehingge tau kapan akan pulang.
Ke negeri akheratlah jalan yang panjang.
Ukur baju samakan badan.
Jangan memakai ukuran lawan.
Biar tau sakit dan nyaman.
Hidup kite jangan sok-sok'an.
Marah itu penyakit hati.
Tinggi darah sulit turun lagi.
Walau dengan care terapi.
Tetap saja hati tersakiti.
Ketawa bahagia saja.
Hidup lepas mengikutu tuntunan agama.
Jangan hidup mengada-ada.
Nanti bisa-bisa jadi binasa.
Bait-bait tersusun panjang.
Maklum ini nasehat yang usang.
Sekedar untuk dapat dipandang.
Haraplah diri ini menjadi tenang.
Tiada manusia yang tanpa beban.
Banyak dipikul letih berjalan.
Make beban dibawa berlahan-lahan.
Jangan menambah beban jika tak tahan.
Demikian ini kengkarangan.
Demikian sebutan bagi orang tepian pawan.
Syair gulung lebih dikenalkan.
Sebagai warisan adat ketimuran.
Cukplah ini madah.
Sekedar untuk menambah ibadah.
Ampun maaf jike dianggap tidak sah.
Hanye saye berwakil kepade Allah.
Saye haturkan Alhamdulillah.
Syair gulung diakhiri sudah.
Salam untuk seluruh keluarge di rumah.
Akher kate Wassalammu'alaikum Warahmatullah.
Oleh: Zunaidi, S.Pd.I
Ketapang, Selasa 13 Maret 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.