SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Selasa, 20 Desember 2011

SYAIR GULUNG "INGAT SAAT SESAAT"

Assalammu'alaikum Warahmatullah.
Memohon izin saya menguraikan madah.
Sengaja maaf jika tak indah.
Bermula syair ini dengan kalimat Bismillah.

Bismillah itu awal diri berniat.
Semoga beserta diri menjadi taat.
Dihindarkan Tuhan dari jalan sesat.
Hidup baik berbias syafaat.

Sembari saya menghaturkan salam.
Haraplah dijawab jangan tuanpun diam.
Adapun syair gulung ini sebagai peredam.
Hati yang gelisah semoga tentram.

Kuat dan kokoh hati yang bijak.
Pemimpin yang arif  seharga emas dan perak.
Kuasa tak diwariskan ke anak beranak.
Demikian sudah pukulan telak.

Sejauh mata memandang.
Gadis cantik berupawan lajang.
Namun dekat dipandang jauh tergenang.
Demikian sudah menjadi angan-angan.

Dijadikan apa yang indah sebagai perhiasan.
Takkan puas dikejar zaman ke zaman.
Baik itu harta anak istri atau perempuan.
Dibalik itu menyebabkan kufur kepada Tuhan.

Sebagaimana diri berhajat.
Kepada Allah mesti bermunajat.
Jangan diri sombong dengan hanya bersiasat.
Semakin jauhlah dari padang khalwat.

Duhai manusia yang durjana.
Nikmat Tuhan yang mana engkau anggap tak berguna.
Adahkah bagi mu nikmat Tuhan itu tiada.
Sungguh jauhlah arah hidup mu sebagai manusia.

Pemimpin banyak yang tak benar.
Setelah memimpin mau jadi penguasa yang besar.
Tak peduli jalannye salah atau tesasar.
Tujuan untuk berkusa selalu dikejar.

Suami-suami mana yang tiada tergoda.
Istri orang hendak mau dijadikan yang kedua.
Demikian juga anak gadis yang masih remaja.
Bisa-bisa dipujuk rayunya.

Istri-istri sedikit yang tabah.
Menuntut harta yang penuh melimpah.
Ditinggal suami bekerja semakin tak betah.
Akhirnya digoda orang di luar rumah.

Anak-anak semakin pintar pula.
Ke sekolah uang jajan selalu dipinta.
Kelakuannya semakin mengila-gila.
Tak mampu ia menjaga marwah orang tua.

Demikian ini zaman sudah menua.
Hidup hanya dianggap hiburan semata.
Tak mengenang mati setelahnya.
Katanya hidup hanya sekali saja.

Takut dosa akhirnya tak merasa.
Baik diwaktu muda diwaktu tua tinggal bongkoknya.
Sungguh itu falsafah yang salah bagi manusia.
Jika diikuti setanlah sebagai penggoda.

Duhai diri yang durhaka.
Bersimpuh luka menongkat nyawa.
Belum juga sadarkah diri sebagai manusia.
Matinya nanti berbungkus kafan dan amal saja.

Syahdan pilu diri memikirkan.
Melihat bermacam tabiat dan kelakuan.
Ada yang seperti malaikat dan juga setan.
Manusia suka bermain dengan kehendak Tuhan.

Jika sadar saat sesaat.
Setelahnya jika digoda berlabuh lagi untuk maksiat.
Sungguh iman belum diperkuat.
Maka diri mestilah taat.

Negeri ini kaya raya.
Semua yang dicari pastilah ada.
Tergantung mau cari yang mana.
Yang baik ada yang jahatpun juga tersedia.

Kita berbicara hidup.
Baik yang terbuka atau jahat yang tertutup.
Banyak sudah nikmat Allah yang kita hirup.
Bila tak sadar bagaikan kembang yang kuncup.

Masing-masing kita mencari selamat.
Baik dunia maupun akherat.
Hati-hati dengan  yang jahat kita terjerat.
Nanti hudup atau mati jadi manusia yang sesat.

Tiang agama berdiri kokoh.
Itulah sebagai tempat berteduh.
Di akherat itu perjalan kita sangat jauh.
Ada yang tenang tapi yang riuh.

Sedap sudah bergelimang dunia.
Namun kufur nikmat sanagt tak terasa.
Orang susah di depan mata hanya dicela.
Sungguh dicabut sudah rasa iba.

Sebagai madah untuk pengingat.
Syair ini perenung yang kuat.
Semoga hati tuan dan puan jadi terikat.
Pada kebaikan kita bertambat.

Susah senang bagian hidup ini.
Tergantung sejauhman kita menyikapi.
Yang terjadi menimbulkan penyesalan dikemudian hari.
Apa yang belum rencanakan secara dini.

Sedap malam bunganya harum.
Jauh dekat wanginya tercium.
Demikian juga dengan kesalahan dalam hukum.
Lekas atau lambat akan akan seperti tusukan jarum.

Baru saja saya memberi uang.
Dua ribu kepada sesorang.
Ia menjajakan Yasin kecil yang belum usang.
Saya memberinya uang tanpa meminta barang.

Sungguh luar baiasa nikmatnya.
Ketika bait syair ini dikarang sayapun dicoba.
Apakah dengan syair ini saya sesui realita.
Kuasa Allah sangat luar bisa.

Dalam hati ini saya hanya berkata.
Pak maafkan saya hanya memberi dua ribu saja.
Bisa jadi engkau lapar berjalan ke sini ke sana.
Semoga Allah mempermudah urusan kita.

Demikian ini syair gulung.
Syair bijak darilah kampung.
Bahasanya bukan maksud menyinggung.
Bila hati terluka masing-masing dirilah yang menanggung.

Dengan niat pemubuka syair membaca Bismillah.
Saya tutupal ini kengkarangan dengan Alhamdulillah.
Semoga kita mendapat berkah dari Allah.
Akhir kate wassalammu'alaikum warahmatullah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.