SYAIR GULUNG “MALAM RESEPSI PENDEKAR SYAIR GULUNG”
Assalammu’alaikum warahmatullah
Izinkan’nam kami membace madah.
Dengan mule membace bismillah.
Kalam syair terbukalah sudah.
Dengan bismillah diawal kate.
Kate tersusun baitpon beserte.
Kami sayerkan ape yang ade.
Mohon didengar dengan seksame.
Acare malam ini meriah sekali.
Korsi dan tenda tersusun rapi.
Dua insan duduk besanding darilah pagi.
Ini lah die acare yang dinanti-nanti.
Pengantin duduk besandeng.
Berdiri duduk kepalak peneng.
Memandang orang ramai puseng gelaneng.
Nanti malampasti ambik posisi mireng.
Si Vera anak yang bungsu.
Ketemu dengan Zunaidi bungsu terlalu.
Marah dan merajuknye seperti batu.
Dengan si vera mencair bagaikan susu.
Zunaidi dan vera pasangan keramat.
Semoge selamat dunie akherat.
Saling menjage dari jalan sesat.
Terhindar dari segalemunkarat.
Jike tengah malam tibe.
Mereke tiduk leteh melipe.
Apepun kisah selesai acare.
Merekelah yang punye cerite.
Zunaidi ini pendekar syair
gulung.
Pandai mengarang membace dan menyanjung.
Adat petue teguh die menjunjung.
Sungguh vera dapat orang yang beruntung.
Si Vera orangnye sabar.
Berhati kecik berbadan lebar.
Terkenal baik keluargenye yang besar.
Sunggoh zunaidi dapat istri yang benar.
Doe pengantin bermacam-macam.
Dari hari ujan maok listrik padam.
Dalam kamar mulai bediam-diam.
Becerite orang mati bangkit biar tambah seram.
Zunaidi seorang guru.
Beliaupun anak yang bungsu.
Di panggilah die dengan sebutan Pak Usu.
Ditepoknye bahu rase kenak peninju.
Jike badan leteh jangan dipakse.
Malam ini kali leteh duduk berdiri terpakse.
Malam besokpon maseh berkumpol sanak keluarge.
Dak lamak agik masok bulan puase.
Jike tengah malam kepalak pening.
Mungkin salah baring meluk bantal guling.
Salah telentang salah tiduk miring.
Ujong-ujongnye jatok teguling-guling.
Betape ramainye undangan.
Silekan minum dan makan.
Pengantin besanding diliat-liatkan.
Liat senyumnye jadikan laok tambahan.
Besalaman dengan pengantin lain dirase.
Tangannye begegar luar biase.
Itulah pengaruh hawe berkeluarge.
Merajut hidup baru menjalin setie.
Bagi undangan yang dak sempat befoto.
Nantik dengan pengantin befoto di studio.
Jike haselnye bagos dibuat baleho..
Kite pampang disetiap toko-toko.
Kepade undangan turut di doekan.
Pergi bepasangan semoge dijodohkan Tuhan.
Dulupun vera dan zunai hanye berteman.
Sekarang bejodoh duduk dipelaminan.
Pergi berduaan jangan diam-diam.
Karene waktu semakin malam.
Hawater nantik lampunye padam.
Dikire becinte rupenye maling ayam.
Jike malam gelap.
Jangan sampai salah tangkap.
Maksud hati ingin tidur tengkurap.
Tau-tauanye ranjang begeser jatuk tejerembap.
Sungguh senangnye jadi pengantin
baru.
Duduk besanding disalami tamu.
Kesempatan berfotopun ditunggu-tunggu.
Kepengantin pandangan menuju.
Acare ini sangat meriah.
Di jalan dan di tenda undangan melimpah ruah.
Makan minumpun telah disediekan kuah.
Semoge undangan menjadi betah.
Mohon maaf duduk berhimpit-himpit.
Jalan rayepun jadilah sempit.
Pengantipun jadi duduk terselepit.
Si zunaidi tolong buatkan kopi pahit.
Si zunaidi nin pengopi.
Ini’am pengantin sejati.
Die ngopi tige kali sari.
Pahitnye hidop telah dijalani.
Inilah pasangan raje sehari.
Berias tampan cantik sekali.
Jike dipandang senyom berunjuk gigi.
Sunggoh ini pasangan serasi.
Pagi tadi ijab kabul telah disebut.
Si zunai sampai begegar
kepalak lutut.
Ucapanye lancar tiade sangsut.
Semoge cinte kaseh selalu terpaot.
Ini’am yang namenye syair.
Bukan mantra bukanye sihir.
Tiade maksud kami untuk menyidir.
Hanye sekedar menghibor bagi yang hadir.
Syair gulung mesti lestari.
Jangan hilang ditelan bumi.
Anak cucuk mesti diajari.
Inilah kebanggaan kite orang pribumi.
Beginilah namenye syair gulong.
Panjangnye tak dapat dihitong.
Berisi nasehat petue dan gurau sanjong.
Janganlah tuan dan puan jadi tersinggong.
Cukup sudah kami bermadah.
Takut yang mendengar duduk gelisah.
Pantat yang bisolan nantik pecah.
Kami yang bersyair nantik dimarah.
Ampon maaf kate yang salah.
Bersame kite tutop’am ini madah.
Kami tutop dengan alhamdulillah
Akhir kate wassalammulaikum warahmatullah.
Dikarang Oleh: Zunaidi Tuan-Tuan
Dibaca Oleh : Nurhajiman,
S.Pd.I & Demi Susanto S.Pd
Dalam acare Resepsi Zunaidi, S.Pd. I dan Vera Kartika, S.Pd
Ketapang 23 Juni 2013
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.