SYAIR GULONG
" RABU SAFAR PILEH BUPATI"
Assalamualaikum warahmatullah.
Izin kan nam saye mengurai madah.
Dengan awal membace bismillah.
Syair gulong terbukalah sudah.
Dengan bismillah diawal kate.
Kate tersusun baitpon beserte.
Kalamullah sebagai tali agame.
Penuntun syair ini untuk dibace.
Termuat perihal yang sangat besar.
Hari Rabu serentak pilkada di Kalbar.
Rabu terakhir di bulan Safar.
Paginye robok-robok makan ketupat beralas tikar.
Banyak yang takut rabu akhir safar.
Takotnye banyak buat iktiar.
Carik aik doe selamat bedadar.
Kenyang makan ketupat dudok tesadar.
Doe akasah akan dibace.
Tiade yang tau anak-anak mude
Pastilah mengharapkan yang tue-tue.
Bace doe dak ade pangkal lumehnye.
Dah safar baruk sibok berobok-robok.
Sibok bemasak ketupat dan laok.
Masak nasik penoh seperiok.
Perot kenyang matepon ngantok.
Pileh bupati di tanggal sembilan.
Bertepatan dengan Rabu Safar akhir bulan.
Katenye seribu balak diturunkan Tuhan.
Doe selamat dan doe qasahlah dibacekan.
Pileh bupati jangan sembarang coblos.
Nantik limak taon hidop setengah mampos.
Segale keperluan rakyat uyoh beuros.
Die nyaman mah berokok kepas kepos.
Ade empat pasang calon bupati.
Maseng-maseng udah carik simpati.
Mane yang ngenak cocok di hati.
Nyan nam tau-tau membonoh kite nanti.
Liat perawakan calon bupati lawar-lawar.
Alangkah kalah eloknye kelelawar.
Namun kite dak tau ukuranye seluar.
Maklom salah pileh takut sial di bulan safar.
Semue calon jangak-jangak.
Pastilah yang mileh anak beranak.
Waktu kampanye jak masa beterak-terak.
Sampai ade ilang umak dan anak.
Peleh bupati jangan liat duet.
Nantik die jadi aik lior kite paet.
Carik kerjepon nantik bepampet.
Duet rakyat nantik die copet.
Bupati ade yang gemok ade yang kuros.
Gemok-gemok suke makan mie rebos.
Kurospon suke makan nasik bungkos.
Yang penteng jadi pemimpin kerjenye bagos.
Jike mileh karene agame
Tuntunannye tentulah dak ade yang same.
Jike mileh karena suku tentu bebede'-bede'.
Karene Allah lah semue tiade cele'.
Pengen hidop lebeh baek.
Hidop merantaupon bise pengen balek.
Jike kampong halaman tambah me'lek.
Kebijakan dibuat jangan sorong tarek.
Kite ikot pilkada serentak.
Kotak suarepon bekapar lerak.
Waktu kampanye jak suare beteriak -teriak.
Kalok ngomong macam orang melawak.
Macam-macam baju dipakai di baleho.
Ade pakai kemeje' dan telok belango.
Terpampang besak di dinding toko.
Sunggoh bagos die befose waktu befoto.
Mileh pemimpen jangan sembarang.
Cariklah yang tahan bepantang.
Taat mengaji taat sembahyang.
Suke belapar sediket kenyang.
Berhubong di bulan safar.
Jagelah dirik jangan sampai nanar.
Make mileh pemimpen mestilah benar.
Jangan sampai dirik tesasar.
Waktu kampanye bukan kepalang.
Semue majelis datang diundang.
Pun nantik mudah-mudahan menang.
Pastilah mengutamekan bayar hutang.
Dunie politik jangan sembarang ikut.
Membenahi urusan yang carut marut.
Menjabat pimpinan sebulan udah bekerut.
Sampai-sampai uyoh bekentut.
Ingat-ingat bulan safar.
Ade tradisi pantang yang tak patut dilanggar.
Dengan kuase Allah lah diri dipagar.
Jalankan hidop dengan syariat yang benar.
Sipepon pemimpin terpileh.
Kite dapat upah tetap bekerje leteh.
Nanam padi tetap menabor beneh.
Make jangan pileh yang aneh-aneh.
Baek bupati dan tim sukses.
Jike menang jangan nam sines.
Walau kalah jangan gak'am menanges.
Sunggoh ujian dunie tak akan habes-habes.
Hati -hati serangan fajar.
Ingat-ingat ini bulan safar.
Politik duit itu tidaklah benar.
Duet habes namepon adak gak tenar.
Pernahlah mereke' menjabat.
Macam-macam ulah sidak perbuat.
Kite mesti bijak selaku rakyat.
Jangan sampai jadi korban tipu muslihat.
Doe qasah dibace kelileng kampong.
Dibace dari ujong ke ujong.
Dibace sambong menyambong.
Tande dirik pade Tuhan tidaklah sombong.
Alam kite kaye raye.
Cukop sampai akhir dunie.
Cume kurang sumber daye manusie.
Make terase sulit mencarik kelayakan kerje.
Kepade Allah berserah diri.
Beribadah kite kepak duduk kepak bediri.
Dengan Bismillah kite pileh bupati.
Tanggong jawabnye hidop dan mati.
Jangan dianggap remeh.
Jangan pula dianggap nyeleneh.
Pikerkan kemajuan kampong sekalipon leteh.
Tetap doe bezikirkan tasbeh.
Demikian inilah madah.
Ampon maaf bahase yang salah.
Hanye sekedar memberi petuah.
Akhir cerite Assalamualaikum warahmatullah.
Ketapang, Selase 8 Desember 2015.
Oleh:
Syekh Syair
Tuan Guru Zunaidi Nawawi Tuan-Tuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.