SYAIR GULUNG
"BUKAN ADE KESADARANNYE"
Assalamualaikumwarahmatullah.
Izin kan saye menuliskan petuah.
Dengan awal bermula bismillah.
Lirik syair bergulung terbukalah sudah.
Dengan bismillah khalikul alam.
Kepade Rasulullah terhatur salam.
Menguraikan tahun pergantian malam.
Segale yang lalu jadilah mase yang silam
Tahun baru kate berucap.
Bekerumun orang mati selap.
Inilah budaye yang udah tertancap.
Penoh alpa beserte khilap.
Awal taon berakher taon.
Banyak acare di senek senon.
Banyak hinoran dapat ditonton.
Sendike barang jualanpon didiskon.
Katanye gak malam taon baru.
Semue tempat penoh diburu.
Jalan aspal penoh macam ulat bulu.
Menengadah langet macam liat antu.
Ape cerite malam taon baru.
Bebakar jagonglah yang ditunggu.
Mun hari laen jagong uyoh laku.
Burok dijual dipokokpun layu.
Laen hal kalok anak mude.
Mulai am becarik tempat becinte.
Pagi suboh udah nyusun rencane.
Becarik tempat belepas baju celane.
Semue suke dak kepalang.
Tue mude di rumah dak ade yang antang.
Suare musek menggema dari petang.
Dak beinggat azan sembahyang.
Iyelah kalok di kote.
Acare taon baru udah jadi gaye.
Tapi dak padan di pelosok dese.
Betaon baru bebangon tenda bemusek rie.
Tahon baru di malam Jumat.
Malam yang dianggap keramat.
Aresan Yasenpon jadi libor sesaat.
Demikian inilah tande dekat kiamat.
Malam Taon Baru bemusek-musek.
Dak sadar tetangga jadi terusek.
Demikianlah warga yang brengsek.
Dak tau susah taunye maok asyek.
Pantong mercon beribu-ribu.
Karene gelapnye malam taon baru.
Langet gelap bewarne puteh merah biru.
Ribuan manusie menghirop abu.
Langet ditembak'ek mercon.
Buat semue maklok jadi bangon.
Cube sejenak piker sambel melamon.
Bagaimane jike dari langet mercon turon.
Habes duet habeskan waktu.
Hidop besak temakan gaye tahon baru.
Hiporie sangat terlalu.
Tiade berubah taat malah menjadi antu.
Liat agame diremehkan.
Kertas terompet berlafazs Al-Qur'an.
Malam Jum'atpon dak mengingat Tuhan.
Sunggoh bala' yang dak bekesudahan.
Bukan ade keadaran.
Seban taon macamlah nyan.
Sajak puitislah jadikan pesan.
Tapi dirik maseh gak macam nyan.
Kalah kah ramainye maulit.
Di bantai hiporie orang beduit.
Orang ramai di jalan dibanding di masjit.
Tande maju adak mundor sikit-sikit.
Kalok diundang maulid Nabi.
Malah anak biak yang suroh pegi.
Orang tuenye malah bekelon depan tivi.
Anak balek ditanyak tambol yang disaji.
Cube kalok udah acare ulang taon anak.
Di undang hayelah si anak biak.
Tapi sekali datang anak beranak seterak.
Apelagi acare taon baru digelar serentak.
Dak ade kesadaran di malam jumat.
Malam yang doe jadi mujarabat.
Kesadaran tebios budaye yang sesat.
Itulah care setan buat tipu muslihat.
Kesadaran sangatlah penteng.
Jike dak sadar anak dare bise bunteng.
Akibat malam taon baru buka retsleteng.
Orang tue dak mabok bise peneng.
Hotel-hotel penoh.
Tempat karir muda mudi yang terbunoh.
Balek pagi baju seluar muke jadi lusoh.
Banyak orang tue bediam tiade heboh.
Tue-tue dak ade kesadaran.
Mude-mude jadi kesetanan.
Sunggoh penteng pendidikan keimanan.
Bise kite sadar jike menginggat Tuhan.
Bile agik ade kesadaran.
Tahun berganti tahun beserte haribulan.
Maseh gak menunggu kapan-kapan.
Sampai wayahnye dirik bebugkus kafan.
Kesadaranlah yang diperlu.
Sebagai penyambut awal tahun baru.
Tiadelah mase yang perlu ditunggu.
Ape yang lewat telah jadi mase yang lalu.
Sendirik perlu kesadaran.
Ingat dirik ingat kelakuan.
Kite hidop seiring zaman.
Jike pengen maju melangkahlah kedepan
Demikian ini petuah.
Ade kesadaran jangan nam dibantah.
Di langgar pantang Di langkah tulah.
Bile dirik sadar ambiklah faedah.
Ampon maaf seiring sajak.
Jangan di anggap dirik melagak
Ilmupon baruk sekangkang kerak.
Hanye buat ketawak tebahak-bahak.
Tiade berucap selamat taon baru.
Bulan mauledpon belom gak lalu.
Demikian ini sajak melayu.
Baru dikarang karene dianggap perlu.
Udah am saye bemadah.
Semoge bertambah berkah.
Saye udah'ek dengan Alhamdulillah.
Akhir sajak wassalammulakum warahmatullah.
Kubu Raya, Pal Sembilan Gang Amal Rumah Mertua Muhammad Dahlan. Malam Jum'at Pergantian Tahun Baru, 1 Januari 2016.
Di Karang Oleh: Syekh Syair Tuan Guru Zunaidi Nawawi Tuan-Tuan ( Zunaidi Audi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.