SYAIR GULUNG " MENJAJAL KELAM"
Assalamualaikum warahmatullah.
Izin kan saye menguraikan madah.
Di tanah Sintang syair gulung terbuka sudah.
Semuenye bermule dengan bismillah.
Dengan bismillah Syair ni dikarang.
Dikarang oleh diri saye seorang.
Kepak duduk berdiri bareng telentang.
Kemane mate tesandong akar melintang.
Ya Allah sehat kan diri sehat kan badan.
Sunggoh doe kami tiadelah sungkan.
Terbayang medan di atas ketinggian.
Hanye selalu meninggat Kuase TUHAN.
Pergilah kami ke Bukit Kelam.
Jarak yang ditempoh sehari semalam.
Bagaikan berenang timbol tenggelam.
Sekali sampai hatipon tentram.
Berangkat hujan betepas.
Berasak dalam oto uyoh benafas.
Sampai Sintang disambot panas.
Naik kelam baruk bertambah beratnye naas.
Mabok dak gak mabok.
Hanye peneng belom minim kopi tumbok.
Bawak gak anak biak bebadan gemok.
Sekok dijage yang lain ngamok.
Jarak tempoh amatlah jaoh.
Liat pemandanganlah yang dak buat jenoh.
Hujan turon super dak maok betedoh.
Diri di dalam serase lapar pengenlah majoh.
Mun tidok mate senot-senot.
Mulut makan ngomong becelapot.
Khayal liat hutan gunung tak ade liat laot.
Semobel begileran perang kentot.
Tidok ade yang mendengkor.
Rase diri yang dengar maok tesungkor.
Sekalbar pon jadi pemecah rekor.
Sengkor anak biak kalahkan ledakan kompor.
Jalan singgoh terjal.
Sudahlah semobel dudok bejajal.
Tedudok memandang batu aspal.
Sampailah ade yang mabok dan mual-mual.
Bukit Kelam sudah didaki.
Berat dipundak bengkak ke kaki.
Mun kire tau macamlah ini.
Sudahlah tentu anak biak pengen bekemah disini.
Wahai engkau si bukit kelam.
Si Ujang Beji lah sejarah bermule dimasa silam.
Batu sebesak kauni dak tenggelam.
Untok membendong aik biar kampong dak karam.
Ku hantar anak Ketapang.
Siap tempoh jarak yang panjang.
Anak biak yang sanggop berjuang.
Terase haru salot tiade terbuang.
Berlinang aik mate becucor keringat.
Semase hidopnye akan die ingat.
Sunggohpon tiade kesadaran kalangan pejabat.
Hidop berkemah membuat anak biak jadi
Merakyat.
Makan masak betungkuk.
Meniop api tetungeng-tungeng bukanlah rukuk.
Jike bermalas tiadelah yang dapat disaguk.
Nasi dak cukop kerakpon jadi lauk.
Name gak bekemah.
Alam terbuka jadilah rumah.
Penghuni kelam itu ramah tamah.
Sekok nyamokpon dak ade mengisap darah.
Anak biak senang gembire.
Terase haru pilu didalam dade.
Sunggoh dak dikire tiade disangke.
Tiade kereng bejemor kolor baju celane.
Anak biak baju celane nyan-nyan nam.
Sendirik malar besarong jak am.
Mun sidak heran tapi bediam.
Dikirenye penceramah setiap jumat malam.
Sunggoh biak-biak amatlah pandai.
Semue yang lempam di dedai.
Di bawahnye tungkuk api asap besipai.
Nyamokpon dak berani dekat jike baju dipakai.
Apelah yang jadi penghibor.
Siang hujan kadang panas keringat nyembor.
Malam gelap gugop bepantong obor.
Nuju ke wc di jalan sempat ngmpor.
Jalan sunggoh licin.
Mendelar macam dijilat jin.
Itu tekenak jalan berizin.
Cume jalan kite jak yang melelain.
Malam sejok merinding.
Sejok hujan embon berumah tak bedinding.
Tidok hawater jatuk mengelinding.
Tapi kegiatan ini sunggoh tiade tanding.
Susah senang tak berkeluh kesah.
Pakaian dak kering tumba
Hujan turun beseretah.
Ini udah takdir ALLAH.
Berhubong jumat yang berkah.
Sempatlah bersyair bermadah.
Di kelam pemandangan terbentang indah.
Akan tetap teringat sampai kerumah.
Ke senek semua-mue maok ikot.
Mendaki buket celane sampai tekelorot.
Kaki betis bengkak naik diurot.
Buang hajat betahan lalu besak diperot.
Berkemah tiade yang jengok.
Udare segar pagi dan malam sejok.
Namun kentotlah buat udare bau busok.
Turun naik bejalanpon teseok-seok.
Ini acare gawai TNI.
Sendirik yang ikot sipil buruh dan tani.
Inilah kerje same membangun generasi.
Disenek ditempa jadi gigih dan berani.
Biasenye tang maok bekelahi.
Di senek same-same jage diri.
Niat beserte ikhlas untuk mengabdi.
Makan minompon indah berbagi.
Buket kelam masihlah utoh.
Dari Ketapang ke Sintang sangatlah jaoh.
Nampak gagahnye kelam belomlah runtoh.
Badannye becadas keras belumot lusoh.
Sajak dibuat tundok tengadah.
Liat kirik kanan atas kebawah.
Jika betapak jangan salah melangkah.
Hawater jatoh pasti beruah.
Demikian ini sajak.
Dibuat diwaktu sesak.
Sebait jadi langsong telajak.
Ampon maaf jike adak jangak.
Dengan mengucap alhamdulillah.
Syair gulong cukuplah sudah.
Niat beserte kalamullah.
Akhir kate assalamualaikum warahmatullah.
Bukit Kelam Sintang, Jum'at 18 Desember 2015.
Oleh Syekh Syair Tuan Guru Zunaidi Nawawi Tuan-Tuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.