SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Jumat, 07 April 2017

SYAIR GULONG "HIDOP NIN"

SYAIR GULONG " HIDOP NIN"

Assalammualaikum warahmatullah.
Izinkan hambe menguraikan madah.
Dengan awal membace bismillah.
Syair gulong saye karangkanlah.

Dengan bismillah dimule kate.
Kate berucap berisi makne.
Ampun maaf diawal bahase.
Khilaf dan salah ciri khas manusie.

Ape kabar sanak saudare.
Lamak tak jumpe tiade bersue.
Semoge baik kumpol sekeluarge.
Berlimpah rezeki bertambah bahagie.

Hidup ini bagaikan laut.
Luas dan banyak air pelarut.
Asin dan gelombang selalu turut.
Semakin diminum haus & lapar sampai ke perut.

Hidup ini bagaikan sekam.
Jangan dikire selalu nyaman & tentram.
Kadang terbakar di dalam diam.
Senyum dan tawa obatnye demam.

Hidup ini bagaikan awan.
Tertampung air jatuh ke badan.
Air mate pastilah masih tersimpan.
Akan bercucur kale ingat kuase Tuhan.

Hidup ini bagaikan pedang.
Waktunye singkat tiade terbilang.
Terase hayal karene bersenang- senang.
Kepade Allah jua diri berpulang.

Hidup ini bagaikan perantau.
Di mane berade pendatang tak terhalau.
Semue- mue pengen meninjau.
Tempat berkhayal tidurpon mengigau.

Hidup ini bagaikan rode.
Berputar kemane- mane.
Kadang miskin jadi kaye.
Kadang kaye tapi berkuase.

Hidup ini bagaikan angin.
Kadang panas kadang dingin.
Banyak terbawa kemauan yang lain- lain.
Segale yang dimau tiade yang menjamin.

Hidup ini bagaikan batu.
Keras- keras tapi berdebu.
Bekuat menang jadi arang dan abu.
Semampu apepun tetap membabu.

Hidup ini bagaikan air.
Tergantung sumber die mengalir.
Terlalu kental akan berlendir.
Tak tahan nasehat dianggap menyidir.

Hidup ini bagaikan kertas.
Sekuat apepun tetaplah repas.
Segale semue pengen dirase puas.
Jike gagal dianggap sial dan naas.

Hidup ini bagaikan wayang.
Semue- mue bergantung dalang.
Maok apepon tiade dapat ditantang.
Tinggalah diri berusahe sorang.

Hidup ini bagaikan pasir.
Bile ditabur akan bekacir.
Di mane bumi selalu kan hadir.
Tiadelah selagi hidup bise menyingkir.

Hidup ini bagaikan lilin.
Membakar diri demi yang lain.
Namun balasan sungguh prihatin.
Tak sebanding dengan ape yang dijalin.

Hidup ini bagaikan kasur.
Bile nyaman tidur berdengkur.
Namun mimpi tak dapat diatur.
Banyak besengkur mimpi ngelantur.

Hidup ini bagaikan daun.
Ruas- ruas indah tersusun.
Menguning kering jatuh dan terjun.
Betande ajal tak berbilang tahun.

Hidup ini bagaikan dapur.
Asap mengepol patut disyukur.
Sunggohpon hanye menuguk bubur.
Tetap wajib sujud tersungkur.

Hidup ini bagaikan akar.
Makin kuat pohonpun besar.
Tiang agamalah sebagai lanjar.
Tak kan sampai tujuan walaupun dikejar.

Hidup ini bagaikan kubur.
Penampung mayat yang terbujur.
Sungguhpon diri besonggoh jujur.
Tetap juga dalamnye pasti diukur.

Cukup sudah ini madah.
Menguraikan hidup sebagai faedah.
Kadang diri lupa kuase Allah.
Semuepon lalu maok ditadah.

Dengan mengucap alhamdulillah.
Saye tutop ini madah.
Ampun maaf kate yang salah.
Akhir kate wassalammulakum warahmatullah.

Ketapang, Senin 5 September 2016
Oleh: Tuan Guru Raja Bungsu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.