SYAIR GULUNG ASLI KETAPANG

Bolehlah saye perkenalkan diri.
Name saye Zunaidi.
Walau jauh kemane pergi.
Diundang bersyair insyaallah menghadiri.

Ayah saye namenye Nawawi.
Umak saye bername Wainah menantu Sedi.
Saye punye tige abang saudare laki-laki.
Pertame Sapuan Nur ketige Zainal Abidin dan kedua si Saupi.

Untuk kedue orang tue kite same berdoe.
Semoge berumur panjang selalu berbahagie.
Kitepun semege jadi anak bergune.
Tau diri dan paham adat budaye serte agame.

Kamis, 27 Juni 2019

SYAIR GULONG "CADAR BERKONDE AZAN"

SYAIR GULONG "CADAR BERKONDE AZAN"
Assalamualaikum warahmatullah.
Izinkan saye mengurai kan madah.
Dengan bermule bismillah.
Syair Gulung memberikan kisah.
Jike akal buat pandai bersyukur.
Make pade Allah lah diri bertafakur.
Iman dan taqwe sulit diukur.
Make lainlah dengan sajak puisi yang masyhur.
Shalawat dan salam kepade Nabi.
Sudahlah bernajis ajing dan babi.
Itu sudah ketetapan Ilahi.
Dengan syariat agame tetap mesti manusiawi.
Shalawat dan salam kepade Rasul.
Dengan binatangpon ade adab begaul.
Tiade patot anjing dan babi lalu dirangkul.
Kecuali diri bukan Islam sudahlah makbul.
Syair bekesah tentang syariat.
Sekalipon adat budayepon patot diliat.
Kisah becadar memeluk anjing dengan erat.
Akhirnye lahirkan puisi cadar yang dihujat.
Ini mane agame mane akal.
Mane wahyupon lagi dibual.
Sungguh akhir zaman tak dapat disangkal.
Banyak pula bepahaman dangkal.
Binatang lapar lagi diurus.
Manusie melarat di biarkan mampus.
Sungguh tiade berbanding lurus.
Akal dan budipon hilang tergurus.
Indah konde melilit sanggol.
Adat budaye baru tersenggol.
Bukan tambah pintar malah tolol.
Dengan cadar tentu perbandingan tak betol.
Manelah die bunda pertiwi.
Tanyakkan pade siape die belaki.
Itu hanye makne kias didalam hati.
Puisi bacaan orang tue itu mesti ingat mati.
Jike tak tau syariat Islam.
Kemane umor belajarlah siang dan malam.
Sungguh puisi sajak mu tande hati tak tentram.
Nampak kebodohan di dalam diam.
Andai tak tau yang mane suci.
Entah ape bungkusan jasad mu ketike mati.
Adek beradik umak bapak same tak beri.
Selalu ade kisah meniste syariat Ilahi.
Jangan disalah eloknye azan.
Kidung itu bise jadi mantranye setan.
Azan dan Islam satu kesatuan.
Itu wujud nyate dari iman.
Sungguh elokkah nenek bekemban.
Besanggul konde tak lagi perawan.
Jike sekedar adat budaye boleh dilestarikan.
Menutup aurat dalam Islam tiade bantahan.
Jike laher membawa adat.
Pastikan Islam bermule syahadat.
Pasti dilantun azan dan iqamat.
Setelah tue bangke dalam puisi buang tebiat.
Jike syariat telah diniste.
Bise jadi tak kenal agame.
Jike perintah Allah telah dikemuke.
Tunggulah laknat pade si die.
Elok rias wanite becadar.
Jike tak mampu auratpon jangan digubar.
Berkerudung indah terpancar.
Belajarlah agame dengan benar.
Banyak sajak kate puisi.
Namun sayang tak berisi.
Nampak sajak dipesan sana sini.
Berharap upah tampil dipanggung seni.
Seumur - umur baru terliat.
Puisi dibace berbait menghujat.
Sungguh itu kidung yang sesat.
Semakin tue semakin kuat melarat.
Bersyukur diri mendengar azan.
Udahlah sembahyang belum tentu dijalankan.
Menghadap kiblatpon maseh becarik Tuhan.
Sungguh zalim azan kami dinistekan.
Seelok - elok azan tak berniat dipuji.
Kalimatnye menyeru panggilan dari Ilahi.
Mengingatkan waktu shalat di sana sini.
Merdu atau tidak shalat wajib dihampiri.
Sungguh puisi tapi tak puitis.
Anggapan agame tiade digubris.
Itu puisi pesanan pejabat politis.
Memicu sara dan anarkis.
Cadar tetaplah cadar.
Itupon syariat yang juga benar.
Konde sanggul kebaya budaye lawar.
Dalam sajak puisi jangan dibuat tengkar.
Konde sanggul mu tertanjap kuat.
Takut menembus kena ke urat.
Kebaya mu nampak terlalu ketat.
Setagen pinggang mu kuat terikat.
Puisi tetaplah puisi.
Penuh makne penuh arti.
Namun tak lazim membuat kiasan benci.
Ibarat berhukum sama anjing dan babi.
Ini am akhir zaman.
Di niste sudah kemerduan azan.
Tak perlulah beribut perang dijalan.
Menghadap Allah jua kite kedepankan.
Entah ape membuat sesat.
Entah ini mungkin tipu muslihat.
Mane muslim dan muslimat.
Dengan jelas dapat dilihat.
Adat budaye selalu rukun.
Dengan agame sebagai penuntun.
Make dengan bait sajak saling membangun.
Make adelah syair puisi dan pantun.
Jike berharap tepukan tangan.
Tak mestilah menafikan cadar dan azan.
Jike benar mewakili kehormatan perempuan.
Sungguh buruknye adab tutur kelakuan.
Mengape tiade belajar dari yang sudah.
Mungkin diri mu yang tue sudah lelah.
Umur panjang tapi tiade berkah.
Diakhir hidup hanye menuai sumpah serapah.
Demikian ini syair.
Bukan mantre bukannye sihir.
Tiade maksud untuk menyindir.
Hanye menghibur bagi yang hadir.
Ampun maaf sajak yang salah.
Maaf bile tak tertulis indah.
Ape yang bagus segale perintah Allah.
Sedangkan ini hanye syair karangan madah.
Dengan mengharap rahmat Allah.
Cukuplah ini madah.
Dengan akhir ditutup alhamdulillah.
Akhirkate Wasssalmmulaikum warahmatullah.
Ketapang, Tuan -Tuan Selasa, 3 April 2018
Tuan Guru Zunaidi Nawawi Tuan - Tuan
Syekh Syair
Raja Bungsu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.

Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.

Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.

Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.

Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.

Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.

Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.

Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.

Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.

Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.