Assalammu'alaikum warahmatullah.
Salam sejahtere saye haturkan sudah.
Dengan awal membace bismillah.
Syair gulung terbuka sebagai madah.
Dengan bismilah syair ini mule saye mengarang.
Bersusun bait sangatlah panjang.
Saye karang oleh diri seorang.
Saye karang dengan tidak semembarang.
Jike kite menghitung bulan.
Pergantian bulan pasti ketahuan.
Tak lama lagi kite masuki ramadhan.
Sekarang sudah dimasuki bulan sya'ban.
Selaku orang-orang beriman.
Selayaknye kite menjage kelakuan.
Perintah agame harap ditunai dilanggar jangan.
Jangan terbuai rayuan setan.
Bagi yang sudah berkeluarge.
Harap salinglag untuk menjage.
Aib suami istri jangan dikate.
Mendidik anak janganlah sie-sie.
Bile diri sudah bersuami.
Laki sendiri jagelah hati-hati.
Jike kurang diri melayani.
Bise jadi die bakal mencari bini lagi.
Andai diri sudah beristri.
Ajari istri untuk mengabdi.
Istri tak patuh cobalah dinasehati.
Hawatir nanti die selingkuh mencari laki.
Jike punye anak sedang sekolah.
Bimbinglah selalu die untuk beribadah.
Kelakuanye yang nakal harap ditegah.
Jadi orang tue jangan asal memberi perintah.
Bayak sudah segenap kejadian.
Prilaku manusie sudah keterlaluan.
Prilakunye merugikan orang merusak badan.
Dapatlah diliat sepanjang jalan.
Kemanelah kite akan berdiam.
Jike sana sini hidup tak pula tentram.
Manusie banyak tingkah yang beragam.
Sesame manusie saling mengancam.
Yang tue macam kebiak-biakan.
Maksudnye macam kekanak-kanakan.
Macam anak dare jike berdandan.
Macam anak bujang jike suke berkencan.
Nenek datokpun memakai gigi palsu.
Ade pula yang membesarkan susu.
Sungguh itu sangat terlalu.
Tak patutlah untuk ditiru.
Adepun prilaku manusie jadi pejabat.
Macam-macam ragam die berbuat.
Berbicare atas name rakyat.
Tapi malah membuat rakyat melarat.
Manusie yang jadi rakyat menuntut.
Janji-janji pejabatpun mulai disebut-sebut.
Ade yang minta kasusnye diusut.
Salah siape waktu diberi janji sembako berebut.
Bile beromong masalah politik.
Banyaklah kelaur siasat yang picik.
Kebijakanpun dibuat membuat rakyat tercekik.
Rakyat jelate hanye bise terpekik-pekik.
Wakil rakyat memakai jas.
Pakaianye rapi bawah ke atas.
Masalah penampilan memang sangat pas
Tapi kebanyakan prilakunye tidaklah pantas.
Dulu kursi wakil rakyat dicari-cari.
Sampai-sampai diperjual beli.
Kampanye kasana kemari.
Rapat soal rakyat kursi malah kosong tak diduduki.
Jadi pejabat tinggi tapi menyogok.
Wajar jike urusan untuk rakyat jadi mogok.
Pembangunan ditunda besok-kebesok.
Make jike milih pejabat harap ditengok-tengok.
Pilih wakil rakyat jangan musiman.
Kitepun mesti menilai tiap pilihan.
Kampanye besar utangyepun melilit badan.
Jike terpilih die wajib kembalikan pinjaman.
Demikian ini sangatlah parah.
Hidup semakin hari bertambah susah.
Harte bende pejabat makin bertamabah.
Orang tak mampu anaknye banyak tak sekolah.
Orang kaye banyak yang haji.
Orang mskin dan bodoh makin menjadi-jadi.
Mau menjadi apelah neger ini.
Hilang sudah kemajuan setiap generasi.
Nampaknye syair ini banyak ragam.
Isinye memuat macam-macam.
Selagi benar saye keras mengahantam.
Jike merase renungilah diri dalam diam.
Cukup sudah ini madah.
Maaf jike dikarang tak begitu indah.
Syair dikarang bersusah payah.
Sekedar menyampaikan sebuah petuah.
Dengan mengucap alhamdulillah.
Saye akhirilah karangan ini madah.
Harap dimaklumi jike memuat banyak salah.
Akhir kate wassalammu'alaikum warahmatullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.