oleh Zunaidi Aidi Tuan-Tuan pada 15 Agustus 2011 jam 0:55
Assalammu'alaikum Warahmatullah.
Izinkan saye mengurai madah.
Dengan berawal membace bismillah.
Syair gulung inipon terbukalah sudah.
Dengan bismilllah permulaan kate.
Kate berucap niatpun beserte.
Berhubong ini bulan puase.
Syaer ini didengarlah dengan seksame.
Inilah die bulan ramadhan.
Bulan yang penuh amponan.
Bulan turonnye alqur'an.
Sekaligos bulan hari kemerdekaan.
Ramailah segenap yang diundang.
Memenohek polres Ketapang.
Melaluek syaer ini saye mendendang.
Inilah die syaer gulong yang panjang.
Salam hormat saye bertutor.
Semue dudok dengan terator.
Tak perlulah polisi untok mengator.
Segenap undanganpon bersikap jujor.
Sekarang kite peringati.
Malam nuzulul qur'an dimalam hari.
Semoge kite mendapat rahmat Ilahi.
Alqor'anpon selalulah untok dikaji.
Ketapang kote keramat.
Kote betuah penoh alamat.
Jangan'am kite sembarang berbuat.
Mohonlah selamat dunie akherat.
Anak dare harap dipelihare.
Anak bujang harap dijage-jage.
Zaman inin udah sangat luar biase.
Songgohpon ini bulan puase.
Jembatan pawan jadi penoh.
Terutame pade waktu suboh.
Orang lewatpon jadilah uyoh.
Suare merconpon membuat rioh.
Kite tunggu malam lailatul qadar.
Malam yang sangat akbar.
Siang hari menahan haos dan lapar.
Habes buka bukan taraweh malah tekapar.
Inilah Indonesie raye.
Negeri indah banyak barang pusake.
Tanggal tujoh belas ini kite merdeke.
Di depan rumah harap dikibarkan bendere.
Allah humma ya Allah.
Di bulan ini berik'am kami berkah.
Apebile berdo'e tangan kami menadah.
Rezki dan umor kami harap ditambah.
Hari berganti hari.
Hari lebaranpon selalu'am dinanti.
Puase dak puase jadi dak peduli.
Semue kebanyakan sibok cari rezeki.
Rumah-rumah udah dicat baru.
Korsi bagos-bagos untuk menerime tamu.
Adak ketinggalan ganti celane baju.
Padahal puase dak tentu rudu.
Jike buka puase.
Jangan'nam rambang mate.
Makanan tersaji dihantam semue.
Setelahnye kekenyangan badan melipe.
Jangan lupa kelrakan zakat.
Biar harte bendenye dak terase berat.
Jadilah kite hambe yang taat.
Jangan lupa mengaji dan salat.
Cukop'am ini madah.
Semege inin jadi petuah.
Berharap'am kite kepade Allah.
Kepadenyelah kite patot menyembah.
Jike lailatul qadar turon.
Berdoelah umor bertamabah taon.
Kejalan yang baek kite same menunton.
Acare tivi yang dak baek jangan'nam ditonton.
Sebagai tande Melayu bertuah.
Mari kite duduk tegak bermusyawarah.
Dimane berade membawa paedah.
Jangan malah saling berbantah-bantah.
Dengan mengharap rahmat Allah.
Besame kite mengucap alhamdulillah.
Syair gulong inipon saye tutoplah sudah.
Akher kate wassalammu'alaikom warah matullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.