by Zunaidi Aidi Tuan-Tuan on Sunday, 24 October 2010 at 01:45
Assalammu'alaikum warah matullah.
Inilah sebuah madah.
Berisi segenap petuah.
Awali membacenye dengan bismillah.
Hidup selalu berangsur - angsur.
Telah ditetapkn juga batasnye umur.
Hidup banyak yang susah sedikit makmur.
Yang pastinye tetap berumah dikubur.
Inilah die syair kubur.
Panjangnye tak dapat diukur.
Dibuat dengan bahase yang jujur.
Sebagi wujud rase syukur.
Jike akhir dari hidup adelah kematian.
Panjang pendek umur jangn dikalutkan.
Itu sudah ketetapan Tuhan.
Jadi hidup jangan sok - sok'an.
Lagak bukan kepalang.
Begaye suke dengan adat orang.
Berani melanggar semu'e pantang.
Merase jago semu'e ditantang.
Hidup boleh sederhane.
Tapi bepikir jangan demikian adenye.
Nanti hiduppun jadi percume.
Kayepun tidak pastinye nerake.
Hidup kite tak boleh larut.
Jangan sampai hidup menjadi sangsut.
Perbanyaklah mengingat maut.
Selama kite hidup die akan tetap ikut.
Duni'e ini akan selalu megah.
Rumah dan gedung akan tetap mewah.
Orang - orang miskin akan makin bertambah.
Orang kaye makin malas beribadah.
Alam kubur alam barzah.
Jalannye singkat beruang bawah tanah.
Tak boleh berbekal barang mewah.
Cukup membawe amal ibadah.
Berpakain suke yang mahal berbahan halus.
Ujung - ujungnye cume kain kafan yang membungkus.
Punye mobil suke yang bagus - bagus.
Akhernye mobil ambulan juga yang sibuk mengurus.
Wahai manusie.
Sejauh mane kau punye cite - cite.
Sudah cukupkah bakti kau dengan orang tu'e.
Kire - kire berape berat timbangan kau punye pahale.
Dose - dose berterbagan.
Tapi semu'e terlupakan.
Berat sudah godaan syaitan.
Untuk itu dekatkan diri kepade Tuhan.
Saye sering mandikan mayat.
Sudah matipun masih banyak temukan tabi'at.
Dari mayat yang berat diangkat.
Sampai - sampai ade yang burung nye mencuat.
Asal ruh kite sangat suci.
Patut dijage sampai mati.
Namun ketike kembali kepade Ilahi.
Ruh kite tidak sesuci dulu kembali.
Dose - dose banyak melekat.
Jadi malas untuk menjadi makhluk yang ta'at.
Mau ibadah terse berat.
Ujung - ujungnye lupa tegakkan salat.
Bekerje siang dan malam.
Duduk berpikir berjam - jam.
Balek kerje hatipun tidaklah tentram.
Bagaikan matahari yang terbenam.
Gajih baru bejuta - juta.
Pergi kerje baru naik kendaran beroda.
Sombongnye sudah tak tekira.
Saye beri salampun berpaling muka.
Punye ilmu disimpan sendiri.
Tidak mau die untuk berbagi.
Suke die bile dipuji - puji.
Sungguh ilmunye tak menjadi bekal mati.
Jike berkate suke tak sopan.
Name - name binatang suke diucapakan.
Sungguh itu keterlaluan.
Itulah mulut yang mesti disekolahkan.
Jike kite mati esok lusa.
Mulutlah yang dimakan ulat diwaktu pertama.
Perut dibusukkan bagian kedua.
Akhirnya ribuan ulat menyatap kita.
Syair kubur ini boleh dibace.
Memang saye karang dengan sengaje.
Saye yakin ini tidakalah si'e - si'e.
Sebagai pengingat untuk manusi'e.
Banyaklah orang mence'le.
Menggap ini budaye biase.
Itulah orang yang sombong tidak tekire.
Padahal di'e lahir dibacekan azan dan do'e.
Jike kubur telah digali.
Siap tidak siap itulah tempat orang yang mati.
Sudah menjadi janji Ilahi.
Dihari kiamat baru dibangkitkan kembali.
Bagi yang percaye talkin.
Itu jangan diaggap maian - main.
Setiap tempat mungkin lain - lain.
Itu membuat diri menmbah yakin.
Tujuh langkah penjiarah pergi.
Malaikatpun datang untuk menanyai.
Make perlu dijawab dengan hati - hati.
Make belajar agamelah sejak dini.
Syair ini sangat panjang.
Saye karang diri seorang.
Harap dibace dan dikenaglah.
Jangan sampai waktu terbuang.
Tiang nisan berdiri kokoh.
Disanalah akhirnye jodoh.
Disanapula tempat berteduh.
Dengan kain kafan yang semakin lusuh.
Hidup tinggal berhitung hari.
Hari - hari silih berganti.
Bertambah hari dekatlah dengan mati.
Bersiap - siaplah kite mulai hari ini.
Syair kubur akan tetap masyhur.
Akan membenarkan perkare dikubur.
Meski dibace sampai beliur - liur.
Tetap takkan dapt tuntas untuk diukur.
Tanah wakaf sudah hampir penuh.
Kemane jasad akan ditaruh.
Perkarangan rumah makin rindang dan teduh.
Namun dipemakaman tak dapat riuh.
Mayat - mayat terbujur kaku.
Pemandi manyat lama dituggu.
Lantaran masyrakat kurang berilmu.
Pemandi manyat sekampungpun susah ditemu.
Guru ngaji dinggap murah.
Hanye diberi imbalan sedikit rupiah.
Padahal mengajar ngaji sangatlah susah.
Tapi hanye dipandang mate sebelah.
Ini zaman yang aneh.
orang - orang berilmu banyak menyeleneh.
Mengate orang tak sadar diri lebeh.
Lelaki perempuan suke berkaseh - kaseh.
Tiang agame mestilah tegak.
Barulah pas jike berlagak.
Bolehlah pula untuk ketawak.
Sampai tebahak - bahak.
Jike mati tinggalkan pesan.
Janganlah pesan yang melelain bukan.
Wasiat harte mesti diutamekan.
Membayarkan hutang urutan paling depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.