by Zunaidi Aidi Tuan-Tuan on Sunday, 01 May 2011 at 22:06
Assalammu'alikum warahmatullah.
Kembali saye membuat madah.
Mengharap rahmat dari Allah.
Semoga ini menjadi sebuah petuah.
Dengan Bismillah diawal kate.
Kate tersusun baitpun beserte.
Saye syairkan ape yang ade.
Tentang hal yang gencar jadi berite.
Jike didengar akhir-akhir ini.
Banyaklah berite tentang NII.
Alirannye ade orangnye tak dapat ditemui.
Hawatir ini hanye bualan tivi.
Selalulah agama yang disebut-sebut.
Itulah jahatnye mulut menyebut.
Membuat citra agama menjadi sangsot.
Yang ngomongpun banyak orang yang besak perot.
Jke ade negare Islam Indonesia.
Itu hanyalah sebuah cita-cita.
Bukankah demikian celah di negeri kita.
Penganut kebebasan demokrasi Amerika.
Negara kesatuan harga mati.
Tetapi dengan politik bisa dibeli.
Sungguh ini membuat rakyat benci.
Sampai-sampau ada yang mau bangun negeri sendiri.
Paham sesatpun banyak menjamur.
Di negeri ini jadi tumbuh subur.
Lantaran rakyat kurang makmur.
Pendidikanpun tak jadi tolak ukur.
Jike NII secare agame islam sesat.
Tentu karena tak diwajibkannya salat.
Dengan orang tuapun mereka tidaklah taat.
Dengan alasan Indonesia bukan negri syari'at.
Inilah negeri yang beradat.
Sulit jike ade berbeda pendapat.
Berbeda aliran dianggap sesat.
Jadi pandai-pandailah mencari selamat.
Manyak di negeri ini yang Islam.
Secare agama sedikit yang ibadah siang dan malam.
Wajar jika ngeri ini belum banyak tentram.
Tokoh agama masih sibuk masalah halal dan haram.
Sangat heran di negeri ini.
Orang yang bicara agama tapi tak lancar mengaji.
Menyibukkan Polisi dan TNI.
Mencari pelaku dan barang bukti.
Mau mendirikan agama Islam.
Mengaji Qur'anpun tak hatam-hatam.
Bekain sarungpun belum tentu becelane dalam.
Paham salahpun main hantam.
Jike mengaji haraplah tuntas.
Jangan dengan ilmu sedikit menjadi puas.
Amalkan saja apa yang pantas.
Sesame manusie saling memberi melas.
Bile umat Islam bersatu.
Negare Islam tentu sudah berdiri sejak dulu.
Namun Nabi tidak mengajarkan begitu.
Hanye ade negara Madinah dizaman itu.
Banyak generasi mude yang sesat.
Lantaran lain yang diajarakan lain yang dibuat.
Disuruh menjadi baik malah menjadi jahat.
Inilah tande akan menjelang kiamat.
Jike mau masuk pesantren.
Pilihlah pondok yang telaten.
Jangan memilih yang asal -asalan memakai kain.
Tapi pilihlah paham dan ajaranye benar walaupun kitabnye lain.
Hati-hati memakai cadar.
Itu bagus agar kulit wajah tak memudar.
Selagi niatnye benar.
Pahalanye dapat dikadar.
Aliran sesat merusak Islam.
Tentu ini ade yang bermain dari dalam.
Jikalau tak mengganggu mereka tak tentram.
Itu sudah menjadi kisah sejak nabi Adam.
Islam adalah kebenaran.
Bukan sekedar agama atau keyakinan.
Allah lah sebagai satu-satunye Tuhan.
Tak perlulah saling berebut lahan.
Hati-hati kite sekarang.
Anak dare jangan bejan seorang.
Patuhi segenap yang dilarang.
Hawatir tau tak tau sudah menghilang.
Cuci otak sering diberitakan.
Otak udang isinye kotoran.
Paling nyaman otak ayam dan ikan.
Tapi mesti dibersihkan sebelum dimakan.
Semoga madah ini ada manfaat.
Mengingatkan adanya paham sesat.
Jaga otak imanpun diperkuat.
Jike sesat di jalan wajib bertanya.
Jike paham sesat Al-qur'qn dan Hadst harap dibuka.
Bergurulah yang paham dengan agama.
Jangan berguru setengah-setengah saja.
Cukup sudah ini madah.
Harap ditegur jike sesat dan salah.
Ditulis menjadi berkah.
Jike dibaca menjadi petuah.
Dengan Membace Alhamdulillah.
Memujilah kite kepade Allah.
Semoga terhindar dari segala musibah.
Akhir kalimat Wassalammu'alaikum Warah matullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SYAIR GULUNG bukanlah hanya hiburan sesaat tanpa bekas, maupun lantunan merdu suara cengkokan nada saja. Melainkan pada lirik-lirik baitnya banyaklah mengandung nilai-nilai pendidikan dan pesan moral atau estetika dalam kehidupan sosial, berbangasa dan juga beragama yang sangat menyentuh. Dalam isian sajaknya menimbulkan identitas jati diri, darah Melayu, pengakuan sebagai orang Melayu.
Syair Gulung tidak mengubah identintas sukunya selain Melayu lalu menjadi Melayu, dengan sebab merdu suaranya, sebab jika demikian maka kemurnian makna identitas yang ada pada Syair Gulung akan pudar dan menghilang. Terkikis oleh orang-orang yang semata hanya mengharapkan gelar atau pengakuan sebagai pesyair saja.
Bukankah, Allah SWT menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, agar saling kenal mengenal. Menandakan bahwa kesukuan tidak bisa diubah oleh kepentingan apapun, justru adanya seni, adat budaya dan kearifan lokal menguatkan pengakuanya sebagai seorang yang bersuku bangsa. Menjadikannya bangga atas kelahiranya dengan identitas kesukuannya. Sebab begitulah Tuhan telah menciptkan kita, tanpa kita meminta untuk hadir dibumi ini, atau hadir di Tanah Tuah Ketapang sebagai Suku yang kita dilahirkan hari ini.
Maka, selama tidak merendahkan, menyalahkan identitas suku lainnya, kita patut bangga ada di Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa. Nah, syair gulung mengutamakan pengakuan pada diri kita sendiri sebagai orang Melayu Ketapang, jauh sebelum orang lain mengakui atau ikut peduli, maka kitalah yang patut mendahului dengan cara tetap melestarikannya. Tetap merasa memiliki dengan cara selalu belajar, memahami dan menghadirkan Syair Gulung pada lingkungan kita, keluarga kita, acara- acara adat budaya kita.
Pengakuan dari diri sendiri ini penting sebagai benteng pertahanan identitas Orang Melayu Ketapang. Kita selama ini terpengaruh besar dengan paham "Melayu Kebangsaan" induk pemikiran dari negeri Jiran. Padahal kita punya pemahaman identitas jati diri orang Melayu, yang kalaulah Melayu tetap Melayu. Karena keterbatasan bangsa yang kecil dari jumlah orang-orang Melayulah, maka sesiapa yang Islam ugamaya lalu menjadi Melayulah ia, sebab orang Melayu tetap akan Islam agamanya. Paham kebangsaan negeri jiran ini, tentu tak bisa disamakan dengan kita yang tetap menjadikan penghormatan, dan mensykuri identitas dirinya sebagai suku bangsa apapun di Nusantara ini.
Sehingga sekalipun sudah Islam, atau masuk Islam maka, tetap saja ia bangga sebagai suku bangsa apapun, sebab itu identitas dari Tuhan atas kelahiranya. Walau Islam tetap saja sesuai dengan suku kelahiranya.
Atas dasar tersebut, Syair Gulung yang merupakan identitas diri bagi Orang Melayu, khususnya dari Melayu Ketapang, maka tidak bisa menjadikanya untuk merubah identitas kesukuan seseorang sekalipun ia pandai mahir dalam cengkokan lagu ataupun kreasi lainya.
Hal ini tentu tidak bisa dibantahkan, jika kita mengakui bahwa Syair Gulung adalah satu-satunya dengan ciri khasnya sebagai identitas Melayu Ketapang. Kita tidak bisa semata-mata pula menjadikanya sebagai perlombaan dengan seni syair dari daerah lain. Sebab apapun bentuk rupa karangan dan suara selama orang Melayu Ketapang yang mendendangkan madah tersebut, itulah identitas dirinya sebagai Melayu Ketapang. Inilah yang terus membuat kita tetap belajar, membudayakannya serta menghadirkan Syair Gulung dalam liku kehidupan kita.
Syair Gulung tidak ada tandingannya, sebab sebagai identitas seni budaya Orang Melayu Ketapang jelas asal usulnya hanya ada dan dari Ketapang. Sehingga untuk mencari tandingannya dalam kemasan kegiatan apapun, tetap saja mendapatkan pengakuan Syair Gulung itu dari Ketapang, walaupun Syair Gulung tampil di luar negerikah, atau diluar Kabupaten Ketapang.
Jadi rekor utama yang patut kita pecahkan terkait Syair Gulung dalm hal menjaga kemurniannya adalah seberapa besar terlibatnya orang -orang Melayu Ketapang dalam aktifitas kehidupan sosial kemasyarakatan membudayakan Syair Gulung. Seperti dalam acara pemerintahan, hiburan rakyat, acara -acara adat bagi Orang Melayu.